Pariwisata Bali Mulai Pulih, tapi Ketimpangan & Eksploitasi Alam Kian Mengkhawatirkan
Poin Penting
|
BALI, investortrust.id - Dari puncak tebing di Pantai Kelingking, Nusa Penida, birunya samudra dan hijau pepohonan berpadu membentuk panorama yang selama ini menjadi ikon Bali di mata dunia. Bentuk tebing menyerupai dinosaurus T-rex menjadikan tempat ini magnet wisata global — ribuan turis datang saban hari untuk berswafoto, sementara sebagian kecil menuruni jalur curam menuju pasir putih di bawah.
Baca Juga
Terminal 1C Kembali Operasi, Kapasitas Bandara Soekarno Hatta Naik Jadi 96 Juta Penumpang
Namun kini, keindahan itu tak lagi utuh. Dari dasar tebing menjulang konstruksi baja dan kaca setinggi 182 meter — lift transparan yang disebut-sebut akan memudahkan akses ke pantai. Proyek yang telah dikerjakan selama 18 bulan itu kini dihentikan sementara oleh Pemerintah Provinsi Bali, setelah muncul dugaan pelanggaran izin dan protes keras masyarakat.
Bagi sebagian warga, pembangunan lift ini bukan sekadar soal estetika. Ini mencerminkan paradoks lama yang terus membayangi Pulau Dewata: antara pembangunan ekonomi yang agresif dan kerapuhan lingkungan yang tak lagi seimbang.
Niluh Djelantik, senator independen asal Bali, merasa gundah atas kondisi yang terjadi di Pulau Dewata.
Niluh yang aktif menyuarakan aspirasi masyarakat lewat media sosial itu sangat menyesalkan pihak-pihak yang mengeksploitasi Bali tanpa mengindahkan dampaknya terhadap bumi dan alam Bali.
Lift kaca di Kelingking Beach, yang disebut digarap oleh China Kaishi Group, diklaim sebagai solusi bagi wisatawan yang kesulitan menuruni tebing curam. Namun, foto-foto konstruksi yang menjorok ke pemandangan alam viral di media sosial dan memicu kecaman luas.
Ketua Pansus Tata Ruang dan Aset Pemerintah DPRD Provinsi Bali, I Made Supartha, menyebut proyek itu bermasalah sejak awal.
“Secara tata ruang, lokasi itu tidak cocok untuk lift kaca. Seharusnya ada studi lingkungan dan ketinggian dari provinsi dan pusat,” ujarnya. Ada indikasi manipulasi izin.
Pemerintah kini tengah meninjau ulang izin proyek tersebut. Jika dibatalkan, belum jelas siapa yang akan menanggung biaya dan bagaimana rencana pembongkarannya.
Niluh juga menyoroti aspek lingkungan dan keamanan proyek itu. Kalau dikaji, menurut dia, yang dibutuhkan bukan lift, tapi akses jalan, air bersih, fasilitas publik, sekolah, dan layanan kesehatan. Itulah pembangunan yang sejati untuk rakyat Bali.
Pemulihan Ekonomi
Secara makro, ekonomi Bali sedang bersinar kembali. Menurut Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan, PDRB atas dasar harga konstan pada triwulan III-2025 mencapai Rp44,90 triliun, tumbuh 5,88% (yoy). Pertumbuhan kumulatif dari triwulan I hingga III mencapai 5,81%, lebih tinggi dari rata-rata nasional.
Baca Juga
Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal III 2025 Capai 5,04%, Sesuai Ekspektasi Pasar
Sektor akomodasi dan makan minum menjadi motor utama dengan kontribusi 23,07%, disusul jasa perusahaan (9,74%) dan jasa pendidikan (9,39%).
“Pariwisata masih menjadi lokomotif utama ekonomi Bali,” kata Agus. Tapi, ia menekankan pentingnya memperkuat fondasi di sektor lain agar tidak rentan terhadap gejolak global.
Upaya diversifikasi mulai dilakukan melalui pertanian modern, ekonomi kreatif, dan energi bersih. Pemerintah juga mendorong pengembangan desa wisata dan industri kuliner berbasis lokal untuk memperluas lapangan kerja bagi generasi muda.
Namun, bagi sebagian pelaku usaha, transformasi itu berjalan lambat. Sekarang vila dan kafe tumbuh di mana-mana, tapi banyak produk lokal justru tersingkir. Ekonomi Bali tumbuh, tapi tidak dinikmati merata.
Paradoks Pulau Dewata
Bali sekarang ini adalah pulau dengan ekonomi yang tumbuh cepat namun juga menampilkan ketimpangan yang tajam. Hotel, vila, dan restoran megah bermunculan — sebagian besar milik investor luar.
Baca Juga
Menpar: Kinerja Pariwisata Kuartal III Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5,04%
Secara statistik, Bali mencatat tingkat pengangguran terbuka terendah di Indonesia, hanya 1,49%. Tapi angka itu menyembunyikan realitas lain: mayoritas warga bekerja di sektor informal, musiman, atau tanpa jaminan pendapatan.
Banyak warga Bali yang secara teknis bekerja, tapi dalam kondisi rentan. Ketika pariwisata pulih, mereka kembali bekerja, tapi keuntungan besarnya tetap mengalir ke pemodal besar.
Fenomena digital nomad dan pekerja asing juga memperkuat paradoks ini. Mereka mengisi ruang ekonomi baru — dari properti hingga kafe kreatif — sementara pelaku lokal kesulitan bersaing.
Pariwisata Bali seperti dua sisi mata uang. Satu sisi membawa kemakmuran, sisi lain memperdalam ketimpangan.
Beban Predikat ‘Pulau Terbaik di Asia’
Di kancah internasional, Bali tetap jadi bintang. Tahun ini, Condé Nast Traveller kembali menobatkannya sebagai Pulau Terbaik di Asia dan peringkat ke-6 dunia, dengan skor 89,84.
Baca Juga
Menpar: Kinerja Pariwisata Kuartal III Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5,04%
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut penghargaan itu sebagai bukti kuatnya daya saing pariwisata nasional.
“Ini kemenangan bersama. Tapi kemenangan ini juga mengingatkan kita agar menata ulang arah pembangunan wisata,” katanya.
Sepanjang Januari–Agustus 2025, lebih dari 10 juta wisatawan mancanegara datang ke Indonesia, dan 60% di antaranya memilih Bali sebagai tujuan utama. Namun, lonjakan wisatawan itu membawa konsekuensi nyata: kemacetan di Canggu, krisis air di Ubud, dan harga lahan yang melonjak hingga menggusur warga lokal.

