SBN dan IHSG Menguat, Saatnya Evaluasi Portofolio Reksa Dana Anda!
JAKARTA, investortrust.id –PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai instrumen reksa dana pendapatan tetap mulai kembali memikat bagi para investor di tengah tren penguatan pasar keuangan domestik. Daya tarik ini didorong oleh kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang telah menyentuh kisaran 7,11%.
Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, mengungkapkan bahwa kondisi risk-reward aset domestik saat ini kian membaik. Faktor utamanya adalah penguatan nilai tukar rupiah serta masuknya kembali aliran dana asing (foreign flow). Kendati demikian, investor tetap diingatkan untuk mewaspadai potensi tekanan dari inflasi dan dinamika suku bunga global.
Baca Juga
Kenaikan yield SBN dinilai menciptakan entry yield yang lebih prospektif di pasar pendapatan tetap. Meski begitu, investor disarankan untuk mengeksekusi strategi masuk secara bertahap guna mengantisipasi volatilitas suku bunga.
“Reksa dana obligasi kembali sedikit lebih menarik setelah SBN 10Y naik ke 7,11%, tetapi preferensi tetap pada portofolio yang berfokus pada obligasi short-to-medium duration, dengan extension ke tenor panjang dilakukan bertahap karena volatilitas duration masih tinggi,” kata Novani dalam keterangan resminya, Selasa (8/9/2026).
Sementara itu, Head of Fund Services PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Francisca Gerungan menekankan bahwa pentingnya memahami fungsi spesifik dari tiap-tiap jenis reksa dana sebelum mengambil keputusan investasi.
Baca Juga
BRI (BBRI) Perluas Akses Investasi Global melalui BRImo, Hadirkan Reksa Dana USD Batavia
Reksa dana pasar uang cocok untuk kebutuhan dana jangka pendek. Kenaikan yield obligasi membuka momentum tepat pada reksa dana pendapatan tetap. Reksa dana saham dapat dimanfaatkan sebagai pendorong pertumbuhan (growth engine) bagi investor berhorizon panjang dan toleransi risiko tinggi, dengan penambahan posisi secara bertahap.
“Investor sebaiknya tidak hanya bertanya produk mana yang memberikan return paling tinggi, kemudian hanya melihat kinerja 1 tahun terakhir sebagai acuan, tetapi juga apa fungsi produk tersebut di dalam portfolionya. Dengan begitu, keputusan investasi dapat lebih terarah sesuai kebutuhan dan tidak hanya didasarkan pada kondisi pasar dalam jangka pendek,” tegas Francisca.
