Meski Laba Turun, Saham BNGA Tetap Dipertahankan Rekomendasi Beli Didukung Faktor Ini
JAKARTA, investortrust.id – Kinerja PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) pada Juli 2026 masih menunjukkan pelemahan akibat lonjakan pencadangan yang menekan laba. Meski demikian, saham BNGA dinilai tetap menarik, sehingga layak direkomendasikan beli dengan target harga Rp 2.100.
Pada Juli 2026, BNGA membukukan laba bersih sebesar Rp 263 miliar, turun 42% secara bulanan (month on month/mom) dan merosot 41% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy). Pelemahan laba terutama dipicu oleh lonjakan beban provisi sebesar 70% secara bulanan dan 92% secara tahunan.
Baca Juga
CIMB Niaga (BNGA) Perkenalkan OCTO Arena, Perluas Ekosistem Lifestyle dan Olahraga
Secara kumulatif selama tujuh bulan pertama 2026, BNGA membukukan laba bersih bank only mencapai Rp 3,5 triliun atau turun 9% secara tahunan. Pencapaian tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi pada tujuh bulan pertama 2025 yang mencapai 55%, sehingga menunjukkan laju pertumbuhan laba tahun ini lebih lambat. “Capaian tersebut setara 49% dari estimasi laba tahun 2026 BRIDS dan juga 49% dari consensus,” tulis BRI Danareksa Sekuritas.
NII BNGA selama tujuh bulan 2026 relatif stagnan di level Rp 6,9 triliun. Pertumbuhan kredit sebesar 8% secara tahunan belum mampu untuk mengimbangi tekanan pada NIM yang turun 9 basis poin menjadi 3,7%. Penurunan akibat earning asset yield turun 50 basis poin secara tahunan menjadi 6,7%, meski sebagian diimbangi penurunan CoF sebesar 50 basis poin menjadi 3,4%.
Di tengah tekanan tersebut, BNGA masih berhasil mencatatkan pertumbuhan PPOP 2% secara tahunan menjadi Rp 5,4 triliun, didukung NII yang stabil dan peningkatan pendapatan operasional lainnya. Namun, kenaikan beban operasional sebesar 5% membuat CIR naik menjadi 48,6%. Sementara itu, beban provisi melonjak 86% secara tahunan menjadi Rp1,1 triliun, sehingga CoC meningkat menjadi 0,8%. Rasio write-offs juga naik menjadi 3,6% dari total kredit.
Baca Juga
CIMB Niaga (BNGA) Cetak Laba Sebelum Pajak Rp 4,3 Triliun di Semester I 2026, Kredit Naik 6,6%
Hingga Juli 2026, kredit BNGA tumbuh 2% secara bulanan dan 8% secara tahunan menjadi Rp230,7 triliun. Namun, dana pihak ketiga atau simpanan nasabah turun 4% secara bulanan, meski masih tumbuh 1% secara tahunan menjadi Rp 258,6 triliun.
Kondisi tersebut membuat loan to deposit ratio (LDR) meningkat menjadi 89,2%, naik 198 basis poin secara bulanan dan 556 basis poin secara tahunan. Di sisi lain, rasio dana murah atau CASA tetap kuat di level 73,2%, meningkat 143 basis poin secara bulanan dan 475 basis poin secara tahunan.
“BNGA masih lemah, terutama akibat kenaikan tajam pencadangan dan CoC yang mengimbangi ketahanan NII serta pertumbuhan kredit. Namun, pemulihan earning asset yield setelah penyesuaian harga kredit korporasi pada kuartal II-2026 serta pertumbuhan CASA yang kuat dinilai dapat memberikan dukungan bagi kinerja ke depan,” tulisnya.
