Saham Summarecon (SMRA) Dipertahankan Rekomendasi Beli, Meski Kinerja Anjlok, Apa Alasannya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) dipertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 676 merefleksikan valuasi sahamnya sudah tergolong murah dan telah mempertimbangkan penurunan kinerja keuangan sepanjang semester I-2025.
Analis Sucor Sekuritas Cheryl Jennifer Wang mengatakan, saham SMRA menarik dengan valuasi rendah, karena masih diperdagangkan pada P/B sekitar 0,5 kali dan PE mencapai 9,1 kali. Valuasi ini jauh di bawah rata-rata tiga tahun masing-masing 0,9 kali dan 11,3 kali. Selain itu, kepemilikan asing di saham ini telah turun menjadi 16% dari rata-rata tiga tahun 24%, sehingga terbuka peluang besar arus masuk dana asing.
Baca Juga
Summarecon (SMRA) Bidik Penjualan Rp 1 Triliun Lewat Pameran Properti di 4 Kota
“Berdasarkan valuasi DCF, target harga saham SMRA ditetapkan Rp 676, mencerminkan diskon 34% dari nilai wajar. Dengan valuasi yang atraktif dan prospek kenaikan kinerja, kami mempertahankan rekomendasi beli saham SMRA,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, pekan ini. Target harga tersebut juga mempertimbangkan sikap optimistis manajemen terhadap penjualan property masih tetap on track, ditopang musim penjualan lebih kuat di paruh kedua serta peluncuran proyek baru Rona Homes.
Terkait kinerja keungan, SMAR membukukan penurunan laba kuartal II-2025 sebanyak 15% menjadi Rp 265 miliar dipicu merosotnya pendapatan perumahan sebesar 52% menjadi Rp 1,2 triliun bersamaan dengan kenaikan beban penjualan dan umum & administrasi yang menekan laba usaha 41% menjadi Rp 702 miliar.
Sumber: Sucor Sekuritas
“Penurunan ini menjadikan laba semester I-2025 turun sebanyak 33% menjadi Rp 504. Meski tertekan, hasil tersebut masih melampaui ekspektasi dengan realisasi 63% dari estimasi laba tahun 2025 berdasarkan perkiraan Sucor Sekuritas,” ungkapnya dalam riset tersebut.
Perseroan juga membukukan marketing sales semester I-2025 sebesar Rp 2,2 triliun atau naik 26% dan setara 43% dari target tahun 2025. Proyek Serpong berkontirbusi Rp 945 miliar atau 44% dari total, terutama dari peluncuran Bellefont East yang langsung terjual habis 57 unit. Capaian ini menjadikan SMRA sebagai pengembang dengan penjualan pemasaran terkuat dibandingkan emiten sejenis.
Baca Juga
JP Morgan: Properti, Konsumsi, dan Pertambangan Jadi Motor Ekonomi Indonesia
Rekomendasi beli saham SMRA tersebut juga merefleksikan penjualan luar biasa hunian di klaster Soultan Island di Summarecon Bekasi. Berdasarkan data, penjualan mencapai Rp 150 miliar hanya dalam dua jam, termasuk satu unit premium yang dilepas Rp 29,5 miliar. Antusiasme pasar ini menegaskan permintaan tinggi di segmen hunian ultra-mewah, sekaligus mencerminkan strategi SMRA yang efektif dalam menarik konsumen high-net-worth.
Terkait kinerja keuangan tahun ini, Sucor Sekuritas menargetkan pendapatan SMRA mencapai Rp 8,68 triliun atau turun dari realisasi tahun 2024 senilai Rp 10,62 triliun. Laba bersih juga diperkirakan turun menjadi Rp 803 miliar, dibandingkan perolehan tahun sebelumnya Rp 1,37 triliun.

