Rupiah Menguat Jelang Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah menguat menjelang pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD 2026. Rupiah menguat 0,05% ke level Rp 17.868 per dolar AS pada Jumat (14/8/2026) pukul 09.01 WIB.
Penguatan nilai tukar, terjadi di hampir seluruh mata uang di Asia. Yuan China menguat 0,01%, yen Jepang menguat 0,03%, won Korea Selatan menguat 0,38%, dan dolar Singapura menguat 0,08%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan, indeks dolar AS atau DXY turun 0,05% menjadi 99,96. Ini terjadi karena penurunan imbal hasil US Treasury membatasi penguatan dolar AS setelah rilis data Producer Price Index (PPI) yang lebih rendah dari perkiraan.
Baca Juga
Rupiah Bergerak Melemah, Defisit AS dan Situasi di Timur Tengah jadi Perhatian Pasar
“Inflasi produsen AS melandai lebih besar dari perkiraan pada Juli 2026. PPI utama tidak berubah secara bulanan (mtm), lebih rendah dari ekspektasi kenaikan 0,2%, sementara inflasi PPI tahunan (yoy) melambat signifikan menjadi 4,7% dari 5,5% pada Juni 2026,” kata Andry dalam keterangan resmi, Jumat (14/8/2026).
Andry Asmoro mengungkapkan, harga barang turun 0,7% (mtm), termasuk penurunan harga energi sebesar 3,1%, sedangkan harga jasa naik 0,2%. Meski demikian, kenaikan harga minyak yang terjadi baru-baru ini sebagian besar belum tecermin dalam data Juli, sehingga masih terdapat risiko kenaikan inflasi pada Agustus.
PPI yang lebih rendah semakin mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Pasar kini memperkirakan probabilitas sekitar 32% untuk kenaikan 25 bps, turun dari sekitar 41% sehari sebelumnya dan 55% sepekan lalu. “Dengan demikian, mempertahankan suku bunga (hold) semakin menjadi ekspektasi dominan pasar,” ujar Andry Asmoro.
Meski demikian, pejabat The Fed masih terpecah. Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack tetap memilih kebijakan yang lebih ketat, sementara Presiden Federal Reserve Bank of Richmond, Thomas Barkin mengatakan bahwa kebutuhan untuk kembali menaikkan suku bunga masih menjadi pertanyaan terbuka.
Harga minyak turun tajam meskipun risiko geopolitik di Timur Tengah masih tinggi. Harga minyak Brent turun 2,15% menjadi US$ 87,07 per barel, sementara WTI turun 2,4% menjadi US$ 81,25 per barel. “Penurunan tersebut dipengaruhi oleh proyeksi permintaan global yang lebih lemah dan kenaikan persediaan minyak mentah AS sebesar 17,4 juta barel.
Baca Juga
“Namun demikian, risiko tetap tinggi karena perundingan AS-Iran mengenai Selat Hormuz masih menemui jalan buntu, sementara serangan di kawasan tersebut terus mengancam infrastruktur energi dan arus pelayaran,” tutur Andry Asmoro.
Di sisi lain, harga emas mengalami koreksi setelah mencapai level tertinggi dalam dua bulan. Harga emas spot turun sekitar 1,2% menjadi US$ 4.354,6 per troy ounce karena investor mengambil keuntungan setelah reli baru-baru ini.
“Tetapi menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi terus memberikan dukungan mendasar terhadap permintaan emas sebagai aset safe haven,” ujar Andry Asmoro.

