Target Harga Saham Midi Utama (MIDI) Dipangkas, Intip Alasan Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Target harga saham PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), dipangkas dari Rp 500 menjadi Rp 480 menyusul revisi tipis proyeksi laba, meski prospek pertumbuhan pendapatan dan margin perseroan dinilai tetap solid sepanjang tahun ini.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Sabela Nur Amalina dan Christy Halim menjelaskan, target harga saham MIDI diturunkan menjadi Rp 480 dengan menggunakan valuasi rata-rata historis tiga tahun sebesar 18,5 kali price to earnings (PE), lebih rendah dibandingkan asumsi sebelumnya sebesar 19,6 kali.
Pemangkasan juga mengasumkan revisi turun proyeksi laba bersih perseroan untuk 2026 dan 2027 turut disesuaikan masing-masing sebesar -1,9% dan -0,8%, sementara proyeksi pendapatan tetap dipertahankan.
Baca Juga
Laba Midi Utama (MIDI) Melesat 45% di 2025, Ini Penopang Utamanya
Meski demikian, BRI Danareksa tetap mempertahankan rekomendasi beli, karena saham MIDI masih menjadi pilihan utama di sektor ritel berkat model bisnis kebutuhan pokok yang defensif serta eksposur yang kuat di luar Pulau Jawa, yang mencakup sekitar 55% dari total gerai perseroan.
Saat ini, saham MIDI diperdagangkan pada price to earnings (PE) 10,6 kali untuk proyeksi 2026, dengan potensi kenaikan (upside) sekitar 72,7% dibandingkan harga penutupan terakhir di Rp 278.
BRI Danareksa menilai prospek kinerja MIDI tetap positif seiring perbaikan tren penjualan pada paruh kedua 2026. Same Store Sales Growth (SSSG) semester I-2026 tercatat 4,4%, masih sesuai dengan target manajemen pada kisaran pertumbuhan menengah satu digit. Pada kuartal II-2026, SSSG sebesar 3,4%, dipengaruhi faktor musiman setelah periode Lebaran.
Baca Juga
Jelang Rights Issue, Tirta Orisa Yasa Jual Saham Bukit Uluwatu (BUVA) Rp 250 Miliar
BRI Danareksa memproyeksikan SSSG MIDI mencapai 4,5% pada 2026 dan meningkat menjadi 5,2% pada 2027. Sejalan dengan itu, laba bersih MIDI diperkirakan meningkat dari Rp 792 miliar pada 2025 menjadi Rp 880 miliar pada 2026 dan kembali naik menjadi Rp 1,01 triliun pada 2027.
Adapun pendapatan diproyeksikan tumbuh dari Rp 20,64 triliun pada 2025 menjadi Rp 22,47 triliun pada 2026 dan meningkat menjadi Rp 24,50 triliun pada 2027. Strategi perseroan meningkatkan kontribusi kategori fresh food dan produk non-pangan, khususnya personal care, akan mendukung ekspansi margin.
Pendapatan Tumbuh
Sepanjang semester I-2026, MIDI membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 8,5% secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri barang konsumsi cepat (FMCG) sebesar 5,1% dan modern trade sebesar 8,3%.
Baca Juga
Pada kuartal II-2026, pendapatan meningkat 10,8% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut antara lain didukung kenaikan harga sekitar 2-10% pada produk yang menggunakan bahan baku impor serta terdampak volatilitas harga minyak.
Sementara itu, margin kotor meningkat menjadi 26,8% pada kuartal II-2026. Perbaikan tersebut didorong oleh komposisi produk yang lebih menguntungkan, terutama meningkatnya kontribusi makanan segar (fresh food) dan produk non-pangan, serta peningkatan margin dari penjualan persediaan lama dengan harga yang lebih tinggi.
Di sisi lain, margin laba bersih tetap terjaga di level 4,1%, meskipun sedikit menurun dibandingkan kuartal sebelumnya akibat meningkatnya rasio beban operasional terhadap pendapatan.
