IHSG Berpotensi Melemah Usai Pengunduran Diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak melemah pada perdagangan Senin (27/7/2026) setelah pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap ketidakpastian arah kebijakan moneter.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, selama IHSG masih bertahan di atas level support 6.060, pelemahan yang terjadi masih tergolong sebagai koreksi yang wajar akibat respons pasar terhadap sentimen tersebut.
"Namun, apabila level tersebut ditembus disertai meningkatnya tekanan jual dan arus keluar dana asing, maka peluang pelemahan yang lebih dalam akan semakin terbuka. Sebaliknya, sentimen positif dari terkoreksinya harga minyak dunia berpotensi membantu meredam tekanan jual sehingga pelemahan IHSG diperkirakan tidak akan terlalu dalam," kata Hendra kepada investortrust.id, Senin (27/7/2026).
Baca Juga
Mensesneg Ungkap Alasan Perry Warjiyo Mundur sebagai Gubernur BI
Menurut Hendra, sentimen negatif yang muncul bukan disebabkan perubahan fundamental ekonomi Indonesia secara mendadak, melainkan karena pasar keuangan cenderung tidak menyukai ketidakpastian, terutama terkait pergantian kepemimpinan di bank sentral.
Ia menjelaskan, Gubernur BI memiliki peran strategis dalam menentukan arah suku bunga, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta memastikan stabilitas sistem keuangan.
Selain itu, sentimen tersebut muncul di tengah kondisi global yang masih penuh tantangan, mulai dari menjelang keputusan suku bunga The Fed (FOMC), tingginya volatilitas pasar global, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong investor mengambil sikap wait and see.
Baca Juga
Vale (INCO) Percepat Hilirisasi Nikel, Proyek HPAL US$ 2 Miliar Masuk Fase Krusial
Meski demikian, Hendra menilai dampak negatif tersebut berpotensi hanya bersifat jangka pendek. Penunjukan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur BI dinilai memberikan sinyal bahwa kesinambungan kebijakan moneter tetap terjaga.
Menurutnya, Destry merupakan bagian dari perumus kebijakan moneter selama beberapa tahun terakhir sehingga pasar cenderung menilai tidak akan terjadi perubahan kebijakan yang signifikan selama masa transisi.
"Hal tersebut juga tercermin dari pergerakan rupiah yang masih relatif stabil di kisaran Rp17.953 per dolar Amerika Serikat atau melemah sekitar 0,23%, sehingga menunjukkan bahwa pasar belum bereaksi secara berlebihan terhadap kabar tersebut," ujar Hendra.
Di sisi lain, ia menilai masih terdapat sentimen positif yang dapat membatasi pelemahan IHSG. Salah satunya adalah koreksi harga minyak mentah Brent sekitar 4,5% ke kisaran US$87 per barel setelah sebelumnya sempat mendekati US$100 per barel.
Baca Juga
Penurunan harga minyak tersebut dinilai dapat meredakan kekhawatiran terhadap inflasi global, mengurangi tekanan kenaikan suku bunga bank sentral, sekaligus menekan biaya energi bagi dunia usaha.
Hendra menegaskan, perhatian utama investor bukan hanya pergantian sosok Gubernur BI, melainkan apakah kredibilitas, independensi, dan konsistensi kebijakan bank sentral tetap terjaga.
"Apabila muncul ketidakpastian mengenai arah kebijakan atau independensi bank sentral, volatilitas di pasar keuangan berpotensi meningkat, terutama pada nilai tukar rupiah, obligasi pemerintah, dan saham-saham sektor perbankan," katanya.
Senada, Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menilai pengunduran diri Gubernur BI berpotensi memicu tekanan jangka pendek terhadap IHSG karena berkaitan dengan kepercayaan investor terhadap arah kebijakan moneter dan stabilitas makroekonomi.
"Reaksi awal pasar kemungkinan berupa peningkatan volatilitas dan sikap risk-off, terutama jika belum ada kejelasan mengenai pengganti maupun arah kebijakan Bank Indonesia ke depan," kata Elandry kepada investortrust.id.
Menurutnya, besarnya koreksi akan sangat bergantung pada respons pemerintah dan Bank Indonesia dalam memberikan kepastian kepada pasar. "Jika komunikasi berjalan baik dan pasar segera mendapat kepastian mengenai kepemimpinan baru serta kesinambungan kebijakan, koreksi berpotensi terbatas di kisaran 1-2%," ujar Elandry.
