IHSG Anjlok Hari Ini Dipicu Sentimen Global, Analis Prediksi Peluang Koreksi ke Area 5.880-6.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan dan berpotensi menguji area 5.880-6.000 setelah ditutup anjlok 118,88 poin atau 1,88% ke level 6.196 pada perdagangan Jumat (24/7/2026).
Adapun pelemahan indeks hari ini dipicu kombinasi sentimen global dan domestik, mulai dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah hingga berlanjutnya aksi jual investor asing.
Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi saham mencapai Rp 16,3 triliun. Aksi jual terjadi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar sehingga menyeret IHSG turun hampir 2% pada penutupan perdagangan.
Baca Juga
Net Sell Berlanjut Rp 1,35 Triliun, Saham BMRI Dibuang Pemodal Asing
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Ahmad Faris Mu'tashim mengatakan, secara teknikal ruang koreksi IHSG mulai terbuka setelah indikator stochastic menunjukkan indeks berada di area overbought.
"Kami menilai IHSG saat ini secara momentum sudah berada di fase overbought yang terlihat dari indikator stochastic. Dari faktor fiskal dan geopolitik, harga minyak yang kembali berada di kisaran US$90-95 per barel kembali mengintai fiskal meskipun dalam pers terakhir APBN masih relatif aman dengan defisit 0,76% terhadap PDB," kata Faris kepada media, Jumat (24/7/2026).
Menurut Faris, IHSG berpotensi menguji level 5.880-6.000 yang merupakan area golden ratio Fibonacci dan menjadi level support kuat sebagai titik rebound apabila tekanan jual mulai mereda.
Baca Juga
Perdagangan Fisik Emas Digital ICDX Melesat 338% di Semester I 2026
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menilai pelemahan IHSG dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. "Menurut saya pelemahan IHSG hari ini dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari eksternal, kenaikan harga minyak dunia akibat kembali meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah mendorong investor mengurangi aset berisiko sehingga risk appetite melemah," ujar Elandry.
Dari dalam negeri, lanjut Elandry, tekanan jual investor asing yang masih berlanjut serta meningkatnya ketidakpastian membuat pelaku pasar memilih bersikap wait and see. Kondisi tersebut memicu tekanan jual yang cukup merata pada saham-saham berkapitalisasi besar sehingga IHSG terkoreksi tajam.
