Perdagangan Fisik Emas Digital ICDX Melesat 338% di Semester I 2026
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) mencatat, transaksi perdagangan pasar emas fisik secara digital melesat 338% secara year on year (yoy) pada semester I 2026.
Plt Direktur Utama ICDX Nursalam mengungkapkan, total transaksinya mencapai 66.372.367 gram pada semester I 2026, dibanding periode yang sama tahun lalu yaitu 15.149.047 gram.
“Adanya pertumbuhan transaksi ini mencerminkan terus meningkatnya minat masyarakat untuk memanfaatkan perdagangan pasar fisik emas secara digital sebagai salah satu alternatif investasi,” ujarnya, dalam keterangan pers, Jumat (24/7/2026).
Baca Juga
ICDX Gandeng Bursa Komoditas Belarusia, Buka Peluang Perdagangan Komoditas Indonesia ke Eropa Timur
Pada semester I 2026, lanjut Nursalam, nilai transaksi perdagangan pasar emas fisik digital mencapai Rp 172,7 triliun, melonjak 601% dibanding periode yang sama 2025 yaitu Rp 24,6 triliun.
“Sebagai Bursa, ICDX akan terus menjaga independensi dan transparansi perdagangan, serta tentunya menjalankan literasi dan edukasi berkelanjutan melibatkan semua pemangku kepentingan, baik itu regulator maupun pedagang emas digital,” katanya.
Menurut Nursalam, saat ini ada enam pedagang emas digital yang menjadi anggota burea ICDX, antara lain PT Indogold Makmur Sejahtera (Indogold), PT Indonesia Logam Pratama (Treasury), PT Laku Emas Indonesia (Laku Emas), PT Syariah Koin Indonesia (ShariaCoin), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Brankas LM), dan PT Pluang Emas Sejahtera (Pluang).
Baca Juga
Ia mengatakan, ICDX terus berkomitmen mendukung ekosistem perdagangan emas yang transparan dan tentunya memberikan perlindungan kepada masyarakat yang memanfatkan emas sebagai alternatif investasi. Terkait ekosistem emas di Indonesia, saat ini ICDX juga telah menjadi bagian dari Indonesia Bullion Market Association (IBMA).
IBMA sendiri merupakan asosiasi yang dibentuk pelaku industri bullion Indonesia untuk mendorong pengembangan pasar bullion yang kredibel, efisien, dan berkelanjutan melalui kolaborasi, standardisasi, edukasi serta penguatan ekosistem industri nasional.
Selain ICDX, anggota Indonesia Bullion Market Association (IBMA) meliputi PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero), PT Amman Mineral Internasional Tbk, PT Untung Bersama Sejahtera, PT Laku Emas Indonesia, PT Brinks Solutions Indonesia, PT Central Mega Kencana, PT Hartadinata Abadi Tbk, PT Pegadaian Galeri Dua Empat (Galeri 24) dan PT Sentral Kreasi Kencana.
Sementara itu, Ketua Perdagangan Emas Digital si Indonesia (PPEDI) Anang Samsudin mengatakan, pertumbuhan transaksi emas digital pada semester I 2026 didorong sejumlah faktor, antara lain semakin tingginya literasi masyarakat tentang emas digital serta volatilitas harga emas yang cukup tinggi.
Sehingga, lanjut dia, emas digital menjadi salah satu pilihan investor untuk melakukan diversifikasi aset maupun menyimpannya sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
”Di sisi lain, perlindungan dan keamanan nasabah menjadi prioritas utama PPEDI. Kami terus berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk memastikan keamanan transaksi nasabah, termasuk memastikan ketersediaan aset emas fisik dengan rasio 1:1 sebagai underlying aset dari emas yang dimiliki investor,” ucap Anang.
