Saham Bank Mandiri (BMRI) Dipertahankan Beli Terdorong Kinerja Keuangan Lampaui Estimasi
JAKARTA, investortrust.id – BRI Danareksa Sekuritas kembali mempertahankan rekomendasi beli saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) setelah kinerja keuangan perseroan pada kuartal II-2026 dinilai melampaui ekspektasi.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan Nataniella mengatakan, Bank Mandiri (BMRI) membukukan kinerja kuartal II-2026 yang kuat, ditopang pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee-based income), efisiensi biaya operasional, serta penurunan beban pencadangan yang mampu mengimbangi tekanan terhadap margin bunga bersih (net interest margin/NIM).
Pada kuartal II-2026, Bank Mandiri (BRMI) mencatat laba bersih sebesar Rp15 triliun, turun 2% dari kuartal sebelumnya. Namun melonjak 33% secara tahunan (year on year/yoy). Meski demikian, NIM bank secara individual turun 23 basis poin dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 4,21%, dipengaruhi penurunan imbal hasil kredit sebesar 20 basis poin dan kenaikan biaya dana (cost of fund/CoF) sebesar 12 basis poin.
Baca Juga
Manajemen menjelaskan penurunan imbal hasil kredit terutama disebabkan penyaluran kredit korporasi kepada pihak berelasi yang memiliki tingkat imbal hasil sekitar 120 basis poin lebih rendah dibandingkan portofolio kredit korporasi reguler. Kendati demikian, tingkat pengembalian aset (return on assets/RoA) tetap dinilai solid.
Di sisi lain, pendapatan nonbunga tumbuh 33% secara tahunan, didukung pertumbuhan pendapatan yang bersifat berulang maupun nonberulang.
Efisiensi juga tercermin dari penurunan beban operasional sebesar 8% dibandingkan kuartal sebelumnya dan 9% secara tahunan, sehingga rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) membaik menjadi 37,6%.
Baca Juga
Bank Mandiri (BMRI) Waspadai Dinamika Suku Bunga dan Nilai Tukar di Semester II 2026
Kualitas aset juga tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) stabil di 0,98%, sementara loan at risk (LaR) turun menjadi 5,83%, sehingga mendukung rendahnya biaya kredit (cost of credit/CoC). Meski demikian, manajemen tetap mencermati penurunan kualitas aset pada segmen ritel.
Pertumbuhan kredit pada kuartal II-2026 masih ditopang oleh kredit kepada pihak berelasi. Kredit wholesale bank secara individual tumbuh 8% sejak awal tahun, sedangkan kredit ritel naik 1%. Kredit kepada pihak berelasi meningkat 13%, sementara kredit kepada pihak nonberelasi membaik menjadi 4% dari sebelumnya 0,6% pada kuartal I-2026.
Secara semester pertama 2026, Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp 30,4 triliun atau meningkat 24% dari periode yang sama tahun lalu. Capaian tersebut setara 53% dari estimasi BRI Danareksa maupun konsensus untuk sepanjang 2026 dan dinilai sedikit melampaui ekspektasi.
Baca Juga
Pembiayaan Berkelanjutan Bank Mandiri (BMRI) Tumbuh 7,5% Jadi Rp 327,3 Triliun di Semester I 2026
“Pertumbuhan laba pada semester pertama BMRI didorong oleh peningkatan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) serta penurunan beban pencadangan,” tulisnya.
Meski mempertahankan rekomendasi beli, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan profitabilitas Bank Mandiri (BMRI) akan mulai kembali normal pada paruh kedua 2026. Hal itu seiring tekanan terhadap NIM yang diperkirakan berlanjut dan pertumbuhan beban operasional yang kembali ke tingkat normal.
Manajemen juga memperkirakan NIM akan mencapai titik terendah pada kuartal III-2026 sebelum berangsur pulih. Dengan asumsi ini, Bank Mandiri (BMRI) mempertahankan target pertumbuhan kredit sebesar 7-9%. Namun, perseroan kembali merevisi target NIM menjadi 4,3-4,5% dari sebelumnya 4,5-4,7%.
Di sisi lain, panduan biaya kredit tetap dipertahankan pada kisaran 0,6-0,8%, target CIR di level 40-41%, serta target bank-only NPL coverage sebesar 230% dan LaR coverage sekitar 40%.
