Lelang Frekuensi Rampung, Mitratel (MTEL) Berpeluang Raup Pertumbuhan Baru
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel berpeluang memperoleh momentum pertumbuhan baru setelah rampungnya seleksi pengguna pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Tambahan spektrum ini akan mendorong ekspansi jaringan operator telekomunikasi yang bakal berdampak langsung terhadap permintaan menara telekomunikasi, kolokasi, tower sharing, hingga konektivitas fiber.
Berdasarkan hasil seleksi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), XLSMART memperoleh blok 30 MHz (2x15 MHz) pada pita frekuensi 700 MHz dengan total penawaran Rp1,06 triliun. Telkomsel mendapatkan blok 20 MHz (2x10 MHz) senilai Rp642,5 miliar, sedangkan Indosat memperoleh blok 20 MHz (2x10 MHz) dengan penawaran Rp507,48 miliar.
Sementara pada pita 2,6 GHz, Telkomsel memperoleh blok 80 MHz senilai Rp545,84 miliar. Indosat mendapatkan blok 60 MHz dengan penawaran Rp372 miliar, sedangkan XLSMART meraih blok 50 MHz senilai Rp 231,6 miliar.
Baca Juga
Merger Anak Usaha, Mitratel (MTEL) Siapkan Buyback Saham hingga Rp 2,98 Triliun
Secara keseluruhan, nilai penawaran XLSMART pada kedua pita frekuensi mencapai Rp 1,29 triliun. Telkomsel mengeluarkan Rp 1,19 triliun. Sedangkan nilai penawaran Indosat mencapai Rp 879,48 miliar.
Komdigi juga mewajibkan para pemenang seleksi menyediakan layanan internet paling rendah berbasis 4G pada desa dan kelurahan terpilih dari total 538 wilayah yang ditentukan. Dalam lima tahun, operator juga diwajibkan menyediakan layanan 5G dengan target sedikitnya 51% cakupan populasi nasional.
Analis PT Panin Sekuritas Tbk Aqil Triyadi menilai, investasi besar yang dikeluarkan operator untuk memperoleh spektrum baru akan mendorong ekspansi jaringan secara agresif. Menurut dia, operator juga perlu menambah kapasitas agar pemanfaatan frekuensi tersebut berjalan optimal.
"Dalam kondisi tersebut, penyedia menara telekomunikasi berpeluang menjadi salah satu penerima manfaat terbesar. Provider yang memiliki jumlah menara terbanyak dan penyebarannya di seluruh wilayah Indonesia akan mendapatkan peluang terbesar mendukung operator dalam mempercepat ekspansi dengan menempatkan perangkat pada menara yang telah tersedia," ujar Aqil.
Baca Juga
Menurut Aqil, Mitratel (MTEL) akan menjadi perusahaan yang paling berpeluang memperoleh ruang pertumbuhan dari ekspansi dan peningkatan kapasitas jaringan operator, jika melihat jumlah menara dan penyebarannya di Indonesia.
Ia menjelaskan, Mitratel telah menyiapkan portofolio infrastruktur yang terintegrasi untuk mendukung kebutuhan operator, mulai dari menara telekomunikasi, jaringan fiber, hingga layanan Power-as-a-Service (PaaS) yang menyediakan solusi pasokan energi bagi infrastruktur telekomunikasi.
"Kombinasi portofolio tersebut memperkuat posisi Mitratel sebagai mitra strategis operator dalam memperluas jangkauan, meningkatkan kapasitas jaringan, sekaligus mendukung efisiensi operasional," kata Aqil.
Baca Juga
Meutya Hafid Resmikan Hasil Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, Operator Wajib Investasi
Sebanyak 59% menara Mitratel berada di luar Pulau Jawa. Komposisi tersebut dinilai menjadi keunggulan ketika operator mulai memanfaatkan frekuensi 700 MHz untuk memperluas layanan ke berbagai daerah.
Peluang pertumbuhan Mitratel juga ditopang oleh bisnis fiber. Hingga Maret 2026, perseroan memiliki jaringan serat optik sepanjang 58.279 kilometer atau tumbuh 8,8% secara tahunan. Pendapatan segmen fiber meningkat 8,5% menjadi Rp152 miliar, sedangkan pendapatan tower-related business naik 12,9% menjadi Rp166 miliar.
Selain dari hasil seleksi frekuensi baru, sumber pertumbuhan lain juga diperkirakan berasal dari ekspansi layanan fixed wireless access (FWA) berbasis teknologi 5G FWA pada pita 1,4 GHz. Layanan tersebut dirancang untuk menyediakan akses internet tetap tanpa harus menarik kabel hingga ke setiap rumah pelanggan.
Hingga kuartal I-2026, Mitratel (MTEL) membukukan pendapatan sebesar Rp2,29 triliun atau tumbuh 1,4% secara tahunan. EBITDA mencapai Rp1,89 triliun dengan margin 82,7%, sedangkan laba bersih meningkat 3,6% menjadi Rp 545 miliar.
