Bukan Sekadar Menara, Merger PST-UMT dan Spektrum Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Mitratel (MTEL)
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Keberhasilan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) menggabungkan dua anak usahanya, PT Persada Sokka Tama (PST) dan PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT), bisa menjadi katalis penting bagi prospek kinerja keuangan perseroan ke depan. Pertumbuhan bisnis inti yang resilien juga didukung peningkatan tenancy ratio, serta tambahan pertumbuhan dari fiberisasi dan monetisasi spektrum.
Merger yang efektif pada 1 Juli 2026 akan menciptakan efisiensi biaya operasional dan belanja modal, sekaligus mengoptimalkan aset untuk memperkuat pertumbuhan bisnis MTEL. Dengan tenancy ratio mencapai 1,57 kali pada semester I-2026, Kiwoom melihat masih terdapat ruang peningkatan menuju level di atas 1,6 kali dalam jangka menengah.
“Merger ini dapat menyederhanakan struktur grup, meningkatkan efisiensi opex dan capex, serta mendorong utilisasi asset,” tulis analis PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas dalam riset terbarunya.
Baca Juga
Fundamental Mitratel (MTEL) Kian Solid, Efisiensi dan Laba Jadi Penopang Pertumbuhan
Selain efisiensi dari merger, pengembangan fixed wireless access (FWA), fiberisasi, internet of things (IoT), dan layanan power juga berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru. Hal ini mendukung transformasi MTEL menjadi Next-Generation Tower Company dengan sumber pendapatan yang lebih beragam.
Prospek tersebut didukung oleh kinerja MTEL yang tetap tumbuh pada semester I-2026. MTEL membukukan pendapatan Rp 4,69 triliun atau naik 2% secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang bisnis fiber dengan kenaikan 8% secara tahunan dan tower-related business naik 15%. Sementara itu, bisnis tower leasing tetap resilien dengan pertumbuhan 1%.
Dari sisi operasional, jumlah portofolio menara MTEL meningkat 2% menjadi 40.563 lokasi. Jumlah kolokasi juga tumbuh 10% menjadi 23.303 tenant, sedangkan panjang jaringan fiber meningkat 9% menjadi 59.239 kilometer. EBITDA tercatat Rp3,51 triliun atau relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Margin EBITDA turun menjadi 74,8% dari 76,5% akibat kenaikan biaya operasional.
Meski demikian, laba bersih MTEL masih tumbuh 2% secara tahunan menjadi Rp1,11 triliun. Pada kuartal II-2026, EBITDA dan laba bersih masing-masing meningkat 4% secara kuartalan, mencerminkan perbaikan momentum profitabilitas.
Proyeksi Kinerja
Kiwoom memperkirakan pertumbuhan kinerja keuangan MTEL akan berlanjut dalam beberapa tahun mendatang. Pendapatan perseroan diproyeksikan meningkat menjadi Rp 9,94 triliun pada 2026, kemudian naik menjadi Rp 10,36 triliun pada 2027 dan Rp10,80 triliun pada 2028. Laba bersih diproyeksikan mencapai Rp2,17 triliun pada 2026, meningkat menjadi Rp2,36 triliun pada 2027, dan mencapai Rp2,57 triliun pada 2028.
Baca Juga
Laba Bersih Mitratel (MTEL) Tumbuh di Semester I-2026, Pendapatan Capai Rp 4,69 Triliun
Prospek pertumbuhan tersebut tidak hanya ditopang bisnis inti, tetapi juga peluang peningkatan monetisasi dari hasil lelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz. Tambahan spektrum bagi operator telekomunikasi diperkirakan mendorong ekspansi cakupan, peningkatan kapasitas, dan modernisasi jaringan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap kolokasi, pembangunan lokasi baru, dan fiberisasi.
Dengan Telkomsel sebagai kontributor pendapatan terbesar MTEL, Kiwoom melihat monetisasi dari tambahan spektrum berpotensi semakin terlihat pada 2027 hingga 2029. Hasil lelang spektrum tersebut diperkirakan dapat menambah sekitar 3.000-3.500 tenant secara kumulatif serta menghasilkan tambahan pendapatan menara tahunan Rp 360 miliar hingga Rp4 20 miliar ketika telah aktif sepenuhnya.
Sejumlah factor tersebut mendorong Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham MTEL dengan target harga direvisi turun dari sebelumnya Rp 705 menjadi Rp 635 per saham. Dengan harga penutupan terakhir Rp 460, target harga baru itu masih mencerminkan potensi kenaikan sekitar 38%.
