Saham Batu Bara Masih Layak Dikoleksi? Intip Target Harga AADI dan ITMG
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah prospek harga batu bara yang diperkirakan mulai melandai, BRI Danareksa Sekuritas masih merekomendasikan investor untuk mengoleksi saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).
Dalam riset yang dirilis Rabu, (22/7/2026), BRI Danareksa mempertahankan rekomendasi buy untuk AADI dengan target harga Rp 12.400 dan ITMG sebesar Rp 34.000, meski pandangan taktis terhadap sektor batu bara diturunkan menjadi netral.
BRI Danareksa menilai valuasi saham batu bara masih relatif murah. Saat ini, sektor tersebut diperdagangkan pada price to earnings (PE) sekitar 6,1 kali atau sekitar 0,7 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahunnya. Meski demikian, ruang kenaikan harga batu bara diperkirakan semakin terbatas sehingga peluang akumulasi dinilai lebih menarik setelah rilis kinerja kuartal II-2026.
BRI Danareksa tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor batu bara. Namun, pandangan taktis untuk tiga bulan ke depan diturunkan menjadi netral lantaran harga batu bara diperkirakan mulai terkoreksi dari level puncaknya, sementara kinerja emiten pada kuartal II-2026 diprediksi belum terlalu menggembirakan.
BRI Danareksa memperkirakan prospek sektor batu bara mulai lebih seimbang pada paruh kedua 2026. Kondisi permintaan dan pasokan (supply-demand/S-D) dinilai memang lebih ketat dibanding siklus normal, tetapi belum mencapai tingkat gangguan moderat seperti yang sebelumnya dikhawatirkan.
Baca Juga
Dari suplai, impor batu bara China dan India selama lima bulan pertama 2026 masing-masing turun 3% dan 18% secara tahunan. Sebaliknya, impor Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan masih tumbuh masing-masing sebesar 4%, 3%, dan 20%.
Sementara dari pasokan, Indonesia masih menjadi faktor utama pengetatan pasar. Produksi dan ekspor batu bara nasional sepanjang Januari-Mei 2026 tercatat turun sekitar 8% dibanding periode yang sama tahun lalu, meski ekspor Australia meningkat sekitar 5%.
BRI Danareksa memperkirakan keseimbangan pasar akan membaik pada semester II-2026 seiring meredanya tekanan geopolitik dan asumsi revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sebesar 10-12% yang berpotensi menambah pasokan batu bara.
Meski demikian, harga batu bara diperkirakan tidak akan terkoreksi tajam. Harga batu bara kalori menengah dan rendah Indonesia sebelumnya ditopang oleh ketatnya pasokan di pasar spot, dengan indeks ICI3 sempat mencapai US$84 per ton dan ICI4 sebesar US$64,6 per ton. Kedua acuan tersebut telah mencapai puncaknya pada Juni 2026 dan mulai mengalami normalisasi dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut BRI Danareksa, revisi RKAB menjadi faktor paling krusial yang akan menentukan arah harga batu bara ke depan. Persetujuan revisi yang diajukan pada awal Juli diperkirakan terbit dalam waktu sekitar satu hingga satu setengah bulan.
Selain itu, percepatan pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) masih berpotensi menekan rata-rata harga jual (ASP) dalam jangka pendek. Kendati begitu, risiko implementasi Domestic Supply Index (DSI) diperkirakan mulai mereda meski ketidakpastian terkait komitmen pembeli hingga 2027 masih membayangi.
Baca Juga
Sejak 2023 RKAB Batu Bara Tembus 1 Miliar Ton, ESDM Tetap Kendalikan Produksi
Dari perspektif emiten, pendapatan kuartal II-2026 diperkirakan meningkat secara kuartalan seiring naiknya produksi, volume penjualan, dan harga ekspor. Namun, peningkatan ASP diperkirakan tidak sepenuhnya mengikuti kenaikan harga acuan karena porsi penjualan ke pasar domestik melalui skema DMO masih cukup besar.
Selain itu, kenaikan biaya operasional diperkirakan menggerus sebagian besar tambahan pendapatan, terutama setelah harga solar industri (HSD) melonjak sekitar 35-40% dibanding kuartal sebelumnya. Alhasil, EBITDA AADI dan ITMG diperkirakan cenderung stagnan pada kuartal II-2026.
Meski menurunkan pandangan taktis menjadi netral, BRI Danareksa tetap menjadikan AADI dan ITMG sebagai pilihan utama di sektor batu bara. Menurut mereka, kedua emiten masih didukung katalis spesifik perusahaan, potensi dividen, serta valuasi yang menarik.
BRI Danareksa juga menilai peluang masuk ke saham batu bara berpotensi menjadi lebih menarik setelah laporan keuangan kuartal II-2026 dirilis, dengan catatan revisi RKAB terealisasi, risiko DSI terus mereda, dan pemulihan volume produksi pada semester II-2026 berjalan sesuai harapan.

