Harga Bitcoin Diprediksi Sentuh Titik Terendah pada 4 Oktober 2026, Bisa Turun ke US$ 50.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Trader veteran Peter Brandt memperkirakan Bitcoin (BTC) masih belum mencapai titik terendah pada siklus pasar saat ini. Bahkan, ia memprediksi aset kripto terbesar di dunia itu baru akan menyentuh level terendah pada 4 Oktober 2026. Menilik Coinmarketcap pada perdagangan Selasa (21/7/2026) pukul 06.55 WIB, BTC tengah berada di level US$ 65.188.
Ia mengatakan, dirinya berani menyebut tanggal spesifik meski mengakui memprediksi waktu pasti dasar pasar merupakan hal yang sangat sulit.
“Saya akan mengambil risiko dengan mengatakan bahwa kita akan mencapai titik terendah pada 4 Oktober. Kita lihat saja nanti,” ujarnya, dilansir dari CoinTelegraph, Selasa (21/7/2026).
Baca Juga
Krisis Pasokan Listrik, Rusia Pertimbangkan Larangan Mining Bitcoin di 19 Wilayah
Brandt, yang telah berkecimpung di dunia perdagangan selama 51 tahun, juga memperkirakan harga Bitcoin masih berpotensi turun di bawah US$ 50.000, bahkan hingga kisaran US$ 40.000 sebelum membentuk dasar siklus (cycle bottom). Koreksi sedalam itu bukan hal yang mustahil, mengingat sejarah panjang pergerakan harga Bitcoin.
“Setiap pasar bearish besar Bitcoin sejak pertama kali hadir selalu mencatat koreksi lebih dari 80%. Jika mengacu pada puncak harga Bitcoin yang berada di kisaran US$ 120.000, potensi penurunan tersebut masih masuk akal,” katanya.
Saat ini, sebagian pelaku pasar menilai level harga Bitcoin di sekitar US$ 60.000 sudah menjadi titik terendah. Namun, Brandt tak sependapat. Ia menilai, sentimen pasar masih terlalu optimistis sehingga belum mencerminkan kondisi yang biasanya muncul saat pasar mencapai dasar.
“Sentimen saat ini netral. Pasar tidak membentuk dasar ketika sentimennya netral. Pasar mencapai titik terendah saat terjadi kepanikan dan lonjakan volume transaksi,” ucap Brandt.
Meski memproyeksikan pelemahan jangka pendek, ia tetap optimistis terhadap prospek Bitcoin dalam jangka panjang. Bahkan, ia menilai Bitcoin masih menjadi pilihan investasi yang lebih menarik dibandingkan saham-saham bertema kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang saat ini tengah populer.
Baca Juga
Inflasi AS Melandai, INDODAX: Sentimen Positif bagi Bitcoin dan Ethereum
Menurutnya, investor yang menempatkan seluruh dananya pada saham AI saat ini belum tentu memperoleh hasil memuaskan dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Jika memiliki dana investasi US$ 10.000, Brandt mengatakan akan membaginya masing-masing 50% ke Bitcoin dan logam mulia.
Brandt juga memproyeksikan Bitcoin baru akan mencapai puncak siklus berikutnya pada 2029, dengan kisaran harga US$ 250.000 hingga US$ 300.000. Jika proyeksi tersebut terealisasi, maka Bitcoin hanya memiliki waktu sekitar satu tahun untuk mencapai target yang jauh lebih agresif, yaitu US$ 1 juta pada 2030, sebagaimana diperkirakan CEO Coinbase Brian Armstrong dan CEO Ark Invest Cathie Wood.
