Sarana Menara (TOWR) Berpotensi Raup Laba Rp 4,05 Triliun pada 2026, Sahamnya Bisa ke Level Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek kinerja keuangan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dinilai tetap solid, seiring transformasi bisnis menuju penyedia infrastruktur digital terintegrasi. Didukung pertumbuhan bisnis non-menara, perusahaan diproyeksikan membukukan peningkatan pendapatan dan laba bersih pada 2026.
Hal ini mendorong Phillip Sekuritas dalam riset terbarunya tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham TOWR dengan target harga Rp 580 per saham. Dengan harga penutupan saham Rp 372, terbuka peluang penguatan harga sekitar 56%.
Analis Phillip Sekuritas Edo Ardiansyah dalam riset terbarunya menyebutkan bahwa diversifikasi bisnis ke layanan konektivitas, fiber, pusat data (data center), hingga energi terbarukan menjadi katalis utama yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang sekaligus meningkatkan valuasi perseroan.
Baca Juga
Dua Anak Usaha PT Sarana Menara (TOWR) Raih Pendanaan Rp 1 T dari DBS, Ini Tujuannya
Pada kuartal I-2026, TOWR membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp3,5 triliun, naik 10,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut sepenuhnya ditopang oleh bisnis non-menara.
Pendapatan segmen Connectivity melonjak 44,4% menjadi Rp502 miliar, diikuti Fiber-to-the-Tower (FTTT) yang tumbuh 3,7% menjadi Rp569 miliar, serta segmen Others yang meningkat lebih dari 100% menjadi Rp269 miliar. Kinerja tersebut mampu mengimbangi penurunan pendapatan bisnis menara sebesar 4,1% menjadi Rp2,1 triliun. Dari sisi profitabilitas, EBITDA tercatat naik 3,8% secara tahunan menjadi Rp2,7 triliun, sementara laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 17,2% menjadi Rp941 miliar, didukung penurunan beban keuangan sebesar 26,2%.
“Kami memperkirakan tren pertumbuhan tersebut berlanjut sepanjang tahun. Pendapatan TOWR diproyeksikan meningkat menjadi Rp13,73 triliun pada 2026, dibandingkan Rp13,33 triliun pada 2025. Laba bersih juga diperkirakan naik menjadi Rp4,05 triliun pada 2026 dari Rp3,68 triliun pada tahun sebelumnya, kemudian meningkat lagi menjadi Rp4,53 triliun pada 2027,” tulisnya.
Seiring pertumbuhan laba, laba per saham (EPS) diperkirakan naik menjadi 81 pada 2026 dari 74 pada 2025. Sementara itu, rasio Return on Assets (ROA) diproyeksikan meningkat dari 4,8% menjadi 5,1%. "Transformasi TOWR dari operator menara telekomunikasi menjadi penyedia infrastruktur digital terintegrasi masih belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi sahamnya," terangnya.
Baca Juga
Merger Anak Usaha, Mitratel (MTEL) Siapkan Buyback Saham hingga Rp 2,98 Triliun
Hingga Maret 2026, panjang jaringan Fiber-to-the-Tower (FTTT) yang menghasilkan pendapatan mencapai 237.837 kilometer, naik 8,7% secara tahunan. Sementara Fiber-to-the-Home (FTTH) telah menjangkau 1,83 juta home passes dengan 289.785 home connects, atau meningkat 58,6% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kontribusi pendapatan non-menara juga terus meningkat dan kini mencapai 42% dari total pendapatan kuartal I-2026, dibandingkan 33% pada periode yang sama tahun lalu. Perseroan juga memperluas kegiatan usaha melalui Protelindo dan iForte ke sektor data center, energi terbarukan, dan wireless services. “Program investasi senilai Rp2,07 triliun tersebut diproyeksikan memberikan nilai kini bersih (NPV) positif sebesar Rp1,33 triliun dan berpotensi menyumbang hingga 26% terhadap pendapatan konsolidasi 2025 selama periode 2026–2035,” terangnya.
Selain ekspansi bisnis, TOWR melakukan penyederhanaan struktur grup melalui rencana delisting anak usaha Solusi Tunas Pratama (SUPR) dan Inti Bangun Sejahtera (IBST). Langkah ini diharapkan meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mempermudah integrasi aset menara dan fiber.
