IHSG Ambles Lebih dari 2% ke Level 5.671, Tertekan Rupiah dan Aksi Jual Asing
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) ambles lebih dari 2% pada perdagangan Senin (30/6/2026), tertekan kombinasi aksi ambil untung (profit taking), masih terbatasnya minat investor terhadap aset berisiko (risk appetite), serta berlanjutnya aksi jual bersih (net sell) investor asing.
Mengacu data RTI Business pukul 10.39 WIB, IHSG turun 148,89 poin (2,56%) ke level 5.671,89. Adapun nilai transaksi mencapai Rp 5,99 triliun, dan volume perdagangan 9,793 miliar saham.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atau Didit mengatakan pergerakan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa Asia yang bergerak melemah pada perdagangan hari ini, meskipun data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur China Juni 2026 telah kembali berada di atas level ekspansi.
“Kami memperkirakan, pergerakan IHSG sejalan dengan pergerakan bursa Asia yang mayoritas bergerak melemah pada perdagangan hari ini meskipun PMI Manufaktur China Juni 2026 berada di atas zona ekspansi,” ujar Didit kepada investortrust.id Selasa, (30/6/2026).
Selain itu, lanjut dia, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut menjadi sentimen negatif bagi pasar saham. Saat ini, rupiah berada di level Rp 17.912 per dolar AS, sementara pelaku pasar masih mencermati rilis data ketenagakerjaan AS dan inflasi Indonesia.
Baca Juga
IHSG Kembali Anjlok 2,50% Hanya dalam 20 Menit Transaksi, Saham BBCA hingga EMAS Terjun
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menilai pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini lebih dipengaruhi kombinasi aksi ambil untung (profit taking) dan masih terbatasnya risk appetite investor.
“Investor asing juga masih konsisten mencatatkan net sell, sementara bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Market Index yang kini sekitar 0,46% membuat aliran passive flow ke pasar domestik relatif terbatas,” kata Elandry.
Kendati demikian, menurut Elandry, secara historis bulan Juli selama beberapa tahun terakhir cenderung menjadi periode yang positif bagi IHSG sehingga peluang penguatan masih terbuka apabila sentimen pasar dan aliran modal (capital flow) mulai membaik.
“Meski demikian, secara historis bulan Juli selama beberapa tahun terakhir cenderung menjadi periode yang positif bagi IHSG, sehingga masih terdapat peluang penguatan apabila market sentiment dan capital flow mulai membaik,” ucap Elandry.
Sedangkan secara teknikal, Investment Specialist KISI Sekuritas Azharys Hardian menilai IHSG masih berpotensi bergerak dalam tren melemah. Menurut dia, peluang rebound baru akan terbuka apabila indeks tidak lagi membentuk pola lower low.
“Selama masih terbentuk lower low, belum ada potensi terjadi rebound, support yang perlu diperhatikan berada di range 5.300-5.400,” kata Azharys.
