Harga Bitcoin Ambles ke US$ 103.000 di Tengah Aksi Jual Beli "Miner"
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) baru-baru ini turun ke level US$ 103.000-an karena aksi jual besar-besaran oleh para penambang atau miner. Selama 20 hari sebelumnya, para penambang melikuidasi sekitar 30.000 BTC, yang berkontribusi signifikan terhadap pergerakan harga ini.
Penurunan harga ini menggarisbawahi pengaruh berkelanjutan dari aktivitas penambang terhadap valuasi Bitcoin, dengan implikasi pasar yang lebih luas terlihat melalui pergerakan altcoin terkait.
Selama tiga minggu terakhir, Bitcoin mengalami penurunan didorong oleh para penambang yang melikuidasi kepemilikannya karena meningkatnya ketegangan geopolitik. Aktivitas ini meningkatkan pasokan jangka pendek, yang menyebabkan tekanan yang menantang level harga saat ini. Data on-chain melacak pelepasan signifikan para penambang ini saat mereka melepas sekitar 30.000 BTC, yang memengaruhi dinamika penawaran-permintaan.
Baca Juga
Imbas Ketidakpastian, Prediksi Bitcoin Terbelah antara US$ 94.000 dan US$ 114.000
"Bitcoin kembali naik, yang merupakan pertanda baik. Menghadapi zona resistensi penting, yang akan segera mencapai titik tertinggi baru sepanjang masa setelah kita menembus zona resistensi ini," ucap Michael van de Poppe, Pendiri, MN Capital dilansir dari Coinmarketcap, Sabtu (21/6/2025).
Penambang terutama bertanggung jawab atas perubahan saat ini, menjual aset untuk memenuhi biaya operasional di tengah meningkatnya biaya. Pergerakan ini memengaruhi likuiditas dan volume perdagangan, dengan penurunan yang signifikan tercatat dalam aktivitas pasar.
Baca Juga
Ketegangan Geopolitik Tak Goyahkan Bitcoin, Investor Pantau Sinyal Positif
Penurunan ini memengaruhi pengaruh pasar Bitcoin yang lebih luas, yang mengakibatkan volatilitas untuk aset lain seperti Ethereum. Investor institusional melihat ini sebagai fase konsolidasi, mempertahankan posisi mereka pada level dukungan utama.
Secara historis, aksi jual penambang yang signifikan sering kali menyebabkan penurunan harga sementara, diikuti oleh pemulihan pasar. Skenario ini dapat terulang, memengaruhi siklus permintaan di masa mendatang dan sentimen investor. Prediksi jangka panjang tetap optimis karena dukungan institusional yang kuat.
Menilik data Coinmarketcap, Sabtu (21/6/2025) pagi WIB, BTC terkoreksi sebesar 1,47% dalam 24 jam terakhir ke level US$ 103.112. Penurunan harga ini menyeret kapitalisasi pasar Bitcoin turun ke US$ 2,05 triliun, juga melemah 1,47% dari hari sebelumnya. Meski demikian, volume perdagangan harian justru melonjak tajam sebesar 38,88% menjadi US$ 49,98 miliar, mencerminkan peningkatan aktivitas jual beli di tengah tekanan pasar.
Harga BTC sempat menyentuh puncaknya di atas US$ 106.000 pada perdagangan Kamis malam, sebelum mengalami koreksi tajam menjelang tengah malam hingga menyentuh kisaran US$ 103.000 di pagi hari.
Dari sisi pasokan, Bitcoin saat ini memiliki suplai yang beredar sebanyak 19,88 juta BTC dari total maksimal 21 juta BTC. Sementara Fully Diluted Valuation (FDV) tercatat sebesar US$ 2,16 triliun. Rasio volume terhadap kapitalisasi pasar berada di angka 2,48%, menunjukkan tingkat likuiditas yang relatif tinggi dalam 24 jam terakhir.
Penurunan harga ini menandai pergerakan volatil Bitcoin yang masih dipengaruhi oleh faktor makroekonomi global, termasuk spekulasi kebijakan suku bunga bank sentral AS dan dinamika pasar kripto secara umum. Para analis memperkirakan volatilitas masih akan berlangsung hingga akhir pekan.

