IHSG Anjlok 3,5% Usai Pengumuman MSCI, Investor Cermati Risiko Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) merosot lebih dari 3,5% jelang penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu (24/6/2026), meskipun sempat dibuka menguat setelah pengumuman MSCI yang mempertahankan Indonesia dalam kategori pasar berkembang (emerging market).
Berdasarkan data BEI hingga pukul 15.30 WIB, IHSG telah anjlok sebanyak 211 poin (3,50%) menjadi 5.888. Penurunan IHSG BEI tercatat yang paling dalam diantara pasar saham dunia hari ini.
Sejumlah analis menilai penguatan indeks pada awal perdagangan dipicu aksi profit taking pasca-pengumuman MSCI. Namun, keputusan MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market dinilai belum cukup kuat untuk mengangkat kepercayaan pelaku pasar secara berkelanjutan.
Baca Juga
IHSG Anjlok Parah 3,22% di Sesi II, Saham Emiten Prajogo BREN dan TPIA Turun Parah
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta mengatakan, hasil MSCI Annual Market Classification Review menjadi salah satu sentimen utama yang memengaruhi pergerakan IHSG pekan ini.
“MSCI menilai, investor masih memiliki kekhawatiran terhadap aspek investability pasar Indonesia, terutama terkait transparansi dan struktur kepemilikan saham,” ujar Nafan, Rabu (24/6/2026).
Menurut Nafan, MSCI juga mengapresiasi reformasi yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Reformasi tersebut meliputi peningkatan keterbukaan kepemilikan saham di atas 1%, implementasi kerangka High Shareholding Concentration (HSC), serta roadmap peningkatan minimum free float menjadi 15%.
Baca Juga
MSCI Beri Lampu Hijau untuk Indonesia, Reformasi Pasar Modal Dinilai Positif
Namun demikian, MSCI menegaskan bahwa implementasi yang konsisten dan dampak jangka panjang dari reformasi tersebut tetap menjadi faktor utama dalam penilaian. “Namun, MSCI menekankan bahwa implementasi yang konsisten dan dampak jangka panjang tetap menjadi faktor utama,” kata Nafan.
Ia mengingatkan bahwa MSCI masih terus memantau perkembangan reformasi pasar modal Indonesia hingga MSCI Index Review November 2026. Jika kemajuan yang dicapai dinilai belum memadai, MSCI dapat mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk konsultasi untuk mereklasifikasikan Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.
Kenaikan The Fed
Selain sentimen MSCI, pasar masih mencermati perkembangan eksternal. Menurut Nafan, tekanan dari dinamika geopolitik Timur Tengah mulai mereda seiring perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun risiko belum sepenuhnya hilang karena Iran masih melanjutkan program nuklirnya.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menghadapi ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer. Sebagian investor bahkan mulai menunda ekspektasi terhadap pemangkasan Fed Rate.
“Ditambah lagi dengan narasi market bergeser menjadi higher for longer, bahkan sebagian pelaku pasar mulai menunda ekspektasi pemangkasan Fed Rate. Kondisi ini biasanya kurang ideal untuk emerging market termasuk Indonesia,” ujar Nafan.
Baca Juga
Dorong Pertumbuhan Jangka Panjang, Merdeka Battery (MBMA) Angkat Dua Direksi Baru
Secara teknikal, Nafan menilai pergerakan IHSG masih berada dalam fase koreksi yang wajar selama berada di wave (b), meskipun indeks sempat menguji garis MA20 dengan membentuk pola pin bar.
Ia mengingatkan investor untuk tetap fokus pada saham dengan fundamental yang solid, valuasi menarik, serta menunjukkan indikasi pembalikan tren. “Gunakan manajemen risiko dengan disiplin,” katanya.
Berdasarkan analisisnya, level support IHSG berada di area 5.848, sedangkan resistance terdekat diperkirakan berada di level 6.257.
