MSCI Pertahankan Emerging Market Indonesia, Mengapa IHSG Sesi I justru Jatuh 1,62%?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terjerembab ke bawah level 6.000 pada penutupan sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (24/2026). Kejatuhan ini berbanding terbalik dengan sentiment positif MSCI Review yang tetap mempertahankan status pasar modal Indonesia di emerging market.
Berdasarkan data perdagagangan saham sesi I BEI, IHSG jatuh sebanyak 99,13 poin (1,62%) menjadi 6.002. Rentang pergerakan 5.993-6.171 dengan nilai transaksi tipis Rp 6,41 triliun. Penutupan ini berbanding terbalik dengan pembukaan pasar dengan kenaikan lebih dari 30 poin. Penurunan hari ini menjadikan IHSG selama enam hari beruntun bergerak melemah.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai pelemahan IHSG dalam enam hari terakhir lebih banyak dipengaruhi tekanan jangka pendek, meskipun keputusan MSCI yang mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market tergolong sentimen positif.
Baca Juga
MSCI Beri Lampu Hijau untuk Indonesia, Reformasi Pasar Modal Dinilai Positif
“Menurut saya, penurunan IHSG yang cenderung melemah dalam 6 hari terakhir, khususnya hari ini, di tengah sentimen MSCI emerging market yang masih relatif positif, lebih banyak dipengaruhi kombinasi tekanan jangka pendek dari global dan domestik,” kata Elandry kepada investortrust.id, Rabu (24/6/2026).
Menurut Elandry, dari sisi eksternal, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan ekspektasi suku bunga The Fed yang masih bertahan tinggi membuat aliran dana cenderung keluar dari pasar negara berkembang (emerging market). Kondisi tersebut tercermin dari aksi jual bersih investor asing dan kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury.
Tekanan tersebut juga berdampak pada nilai tukar rupiah yang pada pagi hari sempat melemah ke sekitar Rp 18.037 per dolar AS. “Hal ini juga berdampak langsung ke rupiah yang pagi ini sempat melemah ke level sekitar Rp 18.037 per dolar AS, menandakan tekanan di pasar valas masih cukup tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelemahan rupiah turut meningkatkan risk premium Indonesia dan membuat investor asing lebih defensif, terutama terhadap saham-saham berkapitalisasi besar dan sektor perbankan.
Baca Juga
OJK Sambut Putusan MSCI: Indonesia Tetap di Emerging Market, Reformasi Diakui Dunia
Selain faktor fundamental, Elandry menilai sebagian pelemahan IHSG juga dipengaruhi faktor teknikal dan aksi ambil untung (profit taking) setelah pergerakan pasar sebelumnya.
“Selain itu, sebagian pelemahan IHSG juga bersifat teknikal dan profit taking setelah beberapa periode pergerakan sebelumnya, di mana pasar cenderung melanjutkan koreksi karena level support tertekan,” jelasnya.
Fase Downtrend
Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atau Didit mengatakan koreksi IHSG masih sesuai dengan proyeksi sebelumnya. “Pergerakannya masih berada di fase downtrend dan nampaknya akan menguji ke level MA20,” ujar Didit.
Baca Juga
Pemerintah Siapkan Berbagai Langkah Antisipasi Dampak Gejolak Global demi Ketahanan Ekonomi Domestik
Menurut Didit, keputusan MSCI yang tetap mempertahankan Indonesia dalam indeks Emerging Market belum mampu untuk menjadi katalis positif yang signifikan bagi pasar. Pasalnya, MSCI masih memberikan sejumlah catatan, termasuk terkait transparansi pasar.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp 17.982 per dolar AS turut membebani pergerakan indeks. Di sisi lain, arus keluar dana asing dari pasar saham domestik juga masih berlangsung.
“Selama lima hari berturut-turut hingga perdagangan kemarin masih terjadi outflow sebesar Rp 2,2 triliun oleh pemodal asing,” kata Didit.
