DBS Tetap Jagokan Saham BBCA, Valuasi Makin Menarik
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap menjadi unggulan analis, meskpun volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berlanjut di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan arus modal asing yang keluar dari Indonesia dalam beberapa hari terakhir.
DBS dalam riset terbarunya menilai kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia cenderung berlebihan dan sebagian besar telah tercermin dalam valuasi saham saat ini. Meski menurunkan target IHSG akhir tahun menjadi 8.000, DBS masih memperkirakan fundamental korporasi Indonesia tetap tangguh dengan pertumbuhan laba perusahaan sekitar 7,5% pada 2026.
Salah satunya BBCA yang memiliki fundamental kuat, sehingga saham ini tetap menjadi pilihan utama di sektor perbankan. “BBCA tetap menjadi pilihan utama kami di sektor perbankan berkat posisi likuiditas yang kuat, pertumbuhan kredit yang konservatif, serta kualitas aset yang unggul. BBCA direkomendasikan beli dengan target harga Rp 8.000,” tulis DBS dalam risetnya.
Baca Juga
Fundamental BBCA Dinilai Tetap Solid, Peluang Kenaikan Saham Bisa Segini
Keunggulan utama BBCA, terang DBS, terletak pada rasio dana murah atau current account savings account (CASA) yang termasuk tertinggi di industri perbankan nasional. Struktur pendanaan tersebut dinilai mampu menjaga biaya dana tetap kompetitif meskipun suku bunga masih berada pada level yang relatif tinggi.
Selain itu, kualitas aset yang terjaga dan disiplin dalam pengelolaan modal membuat BBCA dinilai lebih siap menghadapi kondisi likuiditas yang semakin ketat dibandingkan bank-bank besar lainnya. BBCA juga memiliki rasio CASA terbaik di industri, kualitas aset yang unggul, serta pengelolaan modal yang disiplin. “Keunggulan tersebut menjadi fondasi utama yang menjaga kepercayaan investor terhadap BBCA selama bertahun-tahun, termasuk saat pasar menghadapi tekanan,” tulisnya.
Di sisi lain, koreksi harga saham dalam beberapa bulan terakhir telah membawa valuasi BBCA ke level yang semakin menarik. DBS mencatat valuasi BBCA sempat turun ke kisaran yang terakhir kali terlihat saat krisis keuangan global 2008 sebelum kembali pulih.
Baca Juga
RANS Entertainment Bidik Dana IPO Saham Rp 429,25 Miliar, Raffi Ahmad Tetap Pengendali
“Pada level saat ini, valuasi BBCA seolah mencerminkan pelemahan ekonomi dan penurunan kinerja yang lebih buruk dibandingkan periode pandemi, suatu skenario yang kami nilai kecil kemungkinannya terjadi kecuali terdapat guncangan negatif yang sangat material,” tulis DBS.
DBS menilai harga saham BBCA saat ini telah mengakomodasi berbagai skenario negatif, mulai dari pelemahan ekonomi domestik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, hingga perlambatan pertumbuhan sektor perbankan. Namun, kondisi fundamental saat ini dinilai belum menunjukkan indikasi yang mengarah pada skenario ekstrem tersebut.
Pergerakan harga saham BBCA juga akan ditentukan musim laporan keuangan kuartal II-2026 akan menjadi ujian penting bagi pasar. Jika kinerja emiten-emiten besar, khususnya sektor perbankan, tetap menunjukkan ketahanan di tengah tekanan makroekonomi, maka ruang pemulihan valuasi pasar akan semakin terbuka.
Baca Juga
Hans Kwee: Indonesia Punya Modal Kuat Pertahankan Status Emerging Market MSCI
Dengan posisi likuiditas yang solid, kualitas aset yang unggul, serta valuasi yang telah terkoreksi signifikan, BBCA dinilai tetap menjadi salah satu saham unggulan untuk menghadapi gejolak pasar yang masih berlangsung.
Hal ini mendorong DBS dalam riset terbarunya mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 8.000.

