Net Sell Jumbo Rp 3,19 Triliun, Sebaliknya Investor Asing justru Borong Saham Ini
JAKARTA, investortrust.id – Investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 3,19 triliun di seluruh pasar, meski Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (19/6/2026), ditutup naik tipis 4,8 poin (0,08%) menjadi 6.177.
Net sell terbanyak melanda sejumlah saham berikut, yaitu AMMN mencapai Rp 728,03 miliar, DSSA senilai Rp 468.62 miliar, TPIA mencapai Rp 333,90 miliar, BMRI mencapai Rp 314,74 miliar, dan TLKM sebanyak Rp 307,75 miliar.
Baca Juga
BEI Respons Catatan MSCI, Jeffrey Hendrik: Reformasi Pasar Modal Terus Berlanjut
Sebaliknya lima saham dengan torehan pembelian bersih (net buy) melanda saham BBCA sebanyak Rp 336,43 miliar, BBNI senilai Rp 44,04 miliar, MDKA sebanyak Rp 41,83 miliar, MYOR mencapai Rp 34,70 miliar, dan ICBP sebanyak Rp 9,28 miliar.
Penguatan tersebut berbanding terbalik dengan pergerakan harian yang berada di zona merah. Kenaikan ditopang penguatan sejumlah sektor saham, seperti saham sektor consumer non primer, consumer primer, infrastruktur, dan transportasi. Sebaliknya tekanan melanda saham sektor teknologi, property , dan keuangan.
Adapun sejumlah saham yang berhasil torehkan lompatan harga hingga auto reject atas (ARA), yaitu saham SDMU naik 34,29% menjadi Rp 94, ZONE menguat 25% menjadi Rp 545, dan MORA naik 20% menjadi Rp 7.800. Kenaikan pesat juga melanda saham BCIC sebanyak 25% menjadi Rp 145 dan SMMT naik 20,79% menjadi Rp 2.150.
Baca Juga
BEI Optimistis Indonesia Tetap Berstatus Emerging Market dalam Review MSCI 2026
Kemarin, IHSG anjloksebanyak 48,4 poin (0,78%) menjadi 6.172,34 disertai dengan investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 111,56 miliar Net sell terbanyak melanda saham BBRI senilai Rp 557,26 miliar, MAPI mencapai Rp 98,87 miliar, dan DSSA mencapai Rp 84,98 miliar.
Pelemahan tersebut dipicu atas koreksi mayorita sektor saham, seperti sektor infrastruktur 1,96%, sektor keuangan 1,32%, sektor kesehatan 1,07%, sektor properti 0,64%, dan sektor industri 0,16%. Sebaliknya penguatan melanda saham material dasar, konsumer primer, dan teknologi.
