Bekasi Fajar (BEST) Konversi Utang Dolar ke Rupiah, Selamatkan Perseroan dari Risiko Selisih Kurs
Poin Penting
|
CIKARANG, investortrust.id - Di tengah tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya suku bunga global, PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) memastikan kondisi tersebut tidak berdampak signifikan terhadap kinerja keuangan perseroan.
Head of Corporate Finance & Investor Relations BEST Rika Mandasari menjelaskan bahwa perusahaan telah melakukan langkah mitigasi risiko sejak 2023 dengan mengonversi seluruh pinjaman yang sebelumnya berdenominasi mata uang asing menjadi rupiah.
"Pergerakan rupiah tentu tetap kami perhatikan, tetapi dampaknya terhadap perseroan sudah jauh lebih terkendali karena seluruh utang kami telah dikonversi menjadi rupiah sejak 2023," ujar Rika pada saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 di Cikarang, Jawa Barat, Kamis (18/6/2026).
Selain risiko nilai tukar yang lebih rendah, BEST juga menilai kenaikan suku bunga belum memberikan tekanan berarti terhadap pendanaan perusahaan. Hal tersebut didukung oleh struktur utang yang semakin sehat dan keberhasilan perseroan memperoleh fasilitas pembiayaan dengan bunga yang kompetitif dari perbankan domestik.
Baca Juga
Ia juga memaparkan, pada Maret 2026, rasio utang bersih terhadap ekuitas (net gearing ratio) BEST tercatat hanya 0,17 kali, membaik dibandingkan 0,25 kali pada 2021. Pada periode yang sama, saldo pinjaman bank juga turun menjadi sekitar Rp1,1 triliun dari Rp1,6 triliun lima tahun lalu.
"Hal ini menunjukkan bahwa tingkat leverage perseroan semakin rendah, dan memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam mendukung pertumbuhan bisnis secara keseluruhan, (sehingga) posisi keuangan perseroan tetap solid," ungkapnya.
Di tengah tantangan eksternal tersebut, BEST tetap optimistis terhadap prospek kawasan industri. Perseroan menargetkan marketing sales sebesar Rp600 miliar sepanjang 2026 yang akan ditopang oleh permintaan dari sektor data center, logistik, elektronik, makanan dan minuman, serta industri pendukung lainnya.
"Kami tetap optimis memandang prospek bisnis di kawasan industri di Indonesia, pencapaian target ini akan ditopang dari upaya realisasi berbagai prospek transaksi yang saat ini sedang penjajakan," terang Rika.

