BRI Danareksa: Reli IHSG Baru Dimulai, BBCA, ISAT, dan TINS Jadi Pilihan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) level 7.200 hingga akhir 2026. Meski IHSG telah mengalami reli setelah sempat tertekan, peluang penguatan tetap terbuka didukung sejumlah saham masih diperdagangkan di bawah nilai wajarnya.
Adapun saham pilihan dengan rekomendasi beli diberikan untuk saham BBCA, ISAT, EXCL, ANTM, TINS, dan AADI. Enam saham tersebut masih memiliki potensi penguatan naik ke depan didukung sejumlah sentiment positif.
BRI Danareksa dalam yang dipublikasikan di Jakarta, Rabu (17/6/2026), menyebutkan bahwa reli yang terjadi saat ini merupakan bagian dari pemulihan taktis (tactical relief) setelah IHSG sempat turun hingga 5.337 pada 8 Juni 2026 atau mendekati skenario terburuk di level 5.200 yang mengasumsikan terjadinya penurunan peringkat kredit Indonesia. Namun kini IHSG berhasil rebound ke level 6.255.
Baca Juga
Jelang Review MSCI, Indonesia Diprediksi Pertahankan Status Emerging Market
Pemulihan pasar didukung oleh melambatnya aksi jual investor asing pada saham-saham berkapitalisasi besar, penguatan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp 17.700 per dolar AS setelah sempat menyentuh Rp 18.200 per dolar AS, serta meredanya premi risiko geopolitik setelah harga minyak Brent turun ke kisaran rendah US$ 80 per barel setelah kabar kesepakatan Amerika Serikat dan Iran.
“Sinyal kebijakan yang lebih positif menjadi pemicu utama rebound pasar dalam beberapa hari terakhir. Hal tersebut ditandai dengan koordinasi kebijakan antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 25 basis poin, serta stabilisasi imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun,” tulisnya.
Baca Juga
Kepala Bakom: Evaluasi MBG Berpotensi Hemat Rp 12 Triliun per Tahun
Selain itu, penyesuaian harga Pertamax dinilai membantu mengurangi sebagian beban subsidi pemerintah. Di sektor komoditas, klarifikasi mengenai PT DSI sebagai surveyor dan bukan trader, serta percepatan revisi RKAB yang lebih cepat dari perkiraan, turut mengurangi risiko regulasi pada sektor logam dan batu bara.
Meski aliran dana asing di pasar saham masih mencatat arus keluar bersih Rp 11,9 triliun sejak awal Juni, BRI Danareksa melihat laju outflow mulai melambat. Indikasi akumulasi awal mulai terlihat pada saham perbankan besar, seperti BBCA dan BMRI. Selain itu, masuknya dana ke TPIA pada 15 Juni mengindikasikan tekanan jual pasif telah berkurang, sementara TINS mulai mendapatkan manfaat dari rotasi investor ke sektor yang diuntungkan oleh perubahan kebijakan dan prospek laba.
Saham Pilihan
BRI Danareksa tetap mempertahankan rekomendasi overweight pada sektor perbankan, telekomunikasi, dan logam. Pada sektor perbankan, meskipun kenaikan suku bunga berpotensi menekan net interest margin (NIM), sektor ini masih menjadi pilihan utama apabila aliran dana asing dan domestik kembali masuk ke pasar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi pilihan utama dengan target harga Rp 10.900 per saham.
Di sektor telekomunikasi, BRI Danareksa melihat potensi pertumbuhan yang lebih jelas melalui PT Indosat Tbk (ISAT) dengan target harga Rp 3.000 dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) dengan target harga Rp 3.700. Sementara itu, sektor logam tetap menarik didukung valuasi yang rendah dan risiko regulasi yang semakin terkendali. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) direkomendasikan dengan target harga Rp 4.800 dan PT Timah Tbk (TINS) dengan target harga Rp 4.500.
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Berbalik Melemah 0,84%, Sebaliknya Saham BCIC dan AKSI Cetak ARA
BRI Danareksa juga mulai lebih konstruktif terhadap sektor batu bara. Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 12.400 setelah risiko terkait mekanisme ekspor mereda seiring klarifikasi peran DSI. Selain itu, prospek laba 2026 dinilai masih kuat.
Sementara itu, sektor konsumer dan kesehatan tetap dianggap menarik dari sisi valuasi. Namun, kedua sektor tersebut dinilai masih memiliki katalis yang terbatas karena daya beli masyarakat berpotensi melemah setelah kenaikan harga Pertamax.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada hasil tinjauan outlook dan peringkat kredit Indonesia oleh S&P serta review Market Accessibility MSCI. Jika kedua agenda tersebut menghasilkan keputusan yang positif, BRI Danareksa meyakini IHSG berpeluang bergerak menuju target dasar yang telah ditetapkan.
