IHSG Melejit 7%, Berpotensi Lanjut Menguat Menuju Level 6.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Setelah melonjak lebih dari 7% pada perdagangan Selasa (9/6/2026), indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Namun, investor tetap perlu mewaspadai volatilitas dan aksi ambil untung jangka pendek.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan penguatan IHSG tidak hanya didorong oleh sentimen domestik berupa wacana buyback saham BUMN, tetapi juga membaiknya sentimen global.
Menurut dia, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Iran dan Israel menyepakati penghentian serangan sementara telah mendorong penurunan harga minyak dunia dan memicu sentimen risk-on di pasar keuangan global. Kondisi tersebut membuat hampir seluruh bursa Asia mengalami rebound sehingga turut menopang penguatan IHSG.
"Meski demikian, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa penguatan ini menjadi titik balik yang menandai berakhirnya tren penurunan IHSG," kata Hendra kepada investortrust.id Selasa, (9/6/2026).
Secara teknikal, lonjakan lebih dari 7% menunjukkan adanya aksi bargain hunting yang besar setelah valuasi saham-saham Indonesia turun ke level yang relatif murah. Namun, investor asing masih mencatatkan net sell sekitar Rp 1,5 triliun sehingga kepercayaan terhadap aset Indonesia belum sepenuhnya pulih.
Baca Juga
Investor Asing Justru Kabur Rp 2,44 Triliun, Saat IHSG Melejit 7,57% Hari Ini
Selain itu, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% juga masih menjadi faktor yang membayangi pasar. "Selama arus dana asing belum berbalik menjadi net buy secara konsisten, potensi volatilitas masih akan tetap tinggi dan pasar masih rentan terhadap aksi ambil untung jangka pendek," ujar Hendra.
Untuk jangka pendek, Hendra menilai peluang IHSG melanjutkan penguatan tetap terbuka. Setelah kembali berada di atas level psikologis 5.500, indeks berpotensi bergerak menuju kisaran 6.000-6.300 apabila sentimen global terus membaik, rupiah lebih stabil, dan pemerintah mampu menghadirkan kebijakan yang meningkatkan kepercayaan investor.
Di tengah kondisi tersebut, ia merekomendasikan investor untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham berfundamental kuat dibandingkan membeli dalam jumlah besar sekaligus. Menurutnya, strategi dollar cost averaging lebih tepat karena volatilitas pasar masih tinggi dan peluang koreksi jangka pendek tetap terbuka.
Dari sisi pilihan saham, Hendra menilai sektor perbankan dan telekomunikasi masih menarik karena fundamental bisnisnya relatif kuat. Ia merekomendasikan TLKM dengan target harga Rp 2.760 karena memiliki karakter defensif, arus kas yang stabil, serta didukung pertumbuhan kebutuhan layanan data.
Di sektor perbankan, BMRI menjadi pilihan utama dengan target harga Rp 4.300 berkat cadangan pencadangan yang kuat dan kualitas aset yang relatif lebih baik dibandingkan rata-rata industri. Sementara BBNI memiliki target harga Rp 3.420 dengan potensi pemulihan seiring efisiensi dan pertumbuhan kredit korporasi.
Adapun BBRI direkomendasikan dengan target harga Rp 2.930 karena tetap memiliki posisi dominan di segmen UMKM. Meski demikian, Hendra menyarankan investor tetap mencermati perkembangan kualitas kredit pada segmen tersebut apabila tekanan terhadap daya beli masyarakat berlanjut.

