Analis Ungkap Alasan Saham BTN (BBTN) Tetap Tangguh Saat IHSG Anjlok
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN) menunjukkan ketahanan di tengah tekanan pasar saham. Saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 3,46% ke level 6.370,68 pada perdagangan Selasa (19/5/2026), saham BBTN justru menguat 1,18% ke posisi Rp1.285.
Secara year to date (ytd), kinerja saham BBTN juga masih mencatat kenaikan 9,36%, meski pasar dibayangi tekanan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai saham BBTN masih tergolong tangguh di tengah tren penurunan saham-saham perbankan besar lainnya.
Baca Juga
Menurutnya, valuasi BBTN saat ini masih relatif murah. Berdasarkan data platform HOTS milik Mirae Asset Sekuritas Indonesia, saham BBTN diperdagangkan pada level price to book value (PBV) sekitar 0,5 kali dan price to earnings ratio (PER) sekitar 4,1 kali.
“Apalagi kan IHSG tengah volatilitas, jadi ini bagi investor saham BBTN menarik untuk diakumulasi sebagai defensive stock di tengah volatilitas indeks,” ujar Nafan di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Meski pergerakan saham BBTN masih cenderung sideways, Nafan memperkirakan harga saham perseroan berpotensi menuju level Rp1.375. Ia juga menyoroti pertumbuhan kredit BBTN pada kuartal I-2026 yang berada di kisaran 10% serta penurunan cost of credit yang dinilai menjadi sinyal membaiknya kualitas aset.
Sentimen positif lainnya berasal dari peran strategis BBTN dalam mendukung program pembangunan 3 juta rumah. Selain itu, aksi spin off unit usaha syariah (UUS) dinilai menjadi katalis tambahan bagi pergerakan saham perseroan.
Baca Juga
Usai Haji Isam Masuk, Abadi Nusantara (PACK) Akuisisi Dua Perusahaan Tambang Nikel
Di sisi lain, Nafan menilai BBTN relatif aman dari risiko kredit koperasi berbasis valuta asing (valas) karena fokus bisnis perseroan berada pada pembiayaan properti, khususnya kredit pemilikan rumah (KPR).
“Karena ada KPR subsidi dan nonsubsidi yang tidak berhubungan langsung dengan fluktuasi kurs mata uang asing,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata. Menurutnya, BBTN saat ini menjadi saham bank besar dengan valuasi paling murah.
Liza menyebut saham BBTN diperdagangkan dengan PBV sekitar 0,54 kali dan PER di level single digit rendah. Kondisi tersebut ditopang pertumbuhan laba dan kredit yang masih solid sepanjang kuartal I-2026.
Baca Juga
Yield Obligasi AS Tembus 5,18%, The Fed Bisa Naikkan Bunga Lagi
Menurutnya, BBTN mulai masuk kategori deep value play karena diperdagangkan di kisaran PER 5,36 kali, sementara laba masih tumbuh double digit dan posisinya tetap strategis sebagai pemain utama KPR nasional.
Meski demikian, pasar masih memberikan diskon cukup besar terhadap saham BBTN karena sensitivitas perseroan terhadap biaya dana (cost of fund), likuiditas, dan siklus suku bunga properti yang dinilai lebih tinggi dibandingkan bank lain.
“Karena itu, BBTN lebih cocok untuk investor dengan profil agresif yang percaya pada peluang penurunan suku bunga di semester kedua 2026,” ujar Liza.
Hingga kuartal I-2026, BTN membukukan laba bersih sebesar Rp1,1 triliun atau tumbuh 22,6% secara year on year (yoy). Capaian tersebut ditopang penyaluran kredit yang naik 10,3% yoy menjadi Rp400,63 triliun.

