BTN Syariah Melesat 32%, Sumbangan kian Membesar terhadap Total Laba BTN (BBTN)
JAKARTA, investortrust.id – Strategi manajemen PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) untuk penguatan penjualan produk KPR melalui unit usaha syariah kembali membuahkan hasil. Hal ini ditunjukkan lompatan kontribusi unit bisnis ini terhadap total laba bersih perseroan sepanjang semester I-2024.
UUS yang bakal dijadikan bank umum syariah itu (BTN Syariah) ini berhasil meraup laba bersih Rp 370 miliar sampai Juni 2024 atau bertumbuh 32% secara tahunan. Pertumbuhan pesat ini membuat kontribusi laba unit syariah terhadap total laba BTN meningkat dari 19% menjadi 25%.
Baca Juga
Bos BTN Beberkan Update Terbaru Rencana Merger BTN Syariah dengan Bank Muamalat
BTN Syariah menyebutkan lompatan laba ini didukung ekspansi pembiayaan secara berkelanjutan. Hingga Juni 2024, total baki debit (outstanding) pembiayaan BTN Syariah mencapai Rp 41 triliun atau melesat 22%, dibandingkan periode sama tahun lalu. Menariknya, sejak 2021, pembiayaan BTN Syariah bertumbuh berkelanjutan dengan rata-rata pertumbuhan di atas 12%.
“Skema KPR syariah semakin diminati, karena menjanjikan angsuran tetap. Skema ini sangat relevan di tengah ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi suku bunga. Nasabah yang mengandalkan gaji bulanan untuk angsuran KPR tentu merasa lebih nyaman dengan skema ini. Potensi bisnis KPR syariah sangat menjanjikan karena produknya relevan dengan kebutuhan nasabah,” kata Direktur Utama BTN Nixon L.P Napitupulu di Jakarta, kemarin.
Ekspansi pembiayaan syariah, terang dia, tetap diarahkan pada sektor perumahan dan pembiayaan consumer. Portofolio pembiayaan BTN Syariah berasal dari pembiayaan perumahan sebesar 98,3% sedangkan sisanya berasal dari pembiayaan consumer.
Baca Juga
Kredit Bank BTN (BBTN) Rp 352 Triliun, Laba Bersih Tembus Rp 1,50 Triliun Semester I-2024
"Kami akan terus memfokuskan BTN Syariah pada pembiayaan perumahan yang telah menjadi core sector. Dengan preferensi masyarakat terhadap produk syariah tinggi, ruang pertumbuhan BTN Syariah sangat besar ke depan," jelas Nixon.
BTN Syariah menungkap penopang pertumbuhan pembiayaan syariah berasal dari segmen pembiayaan perumahan subsidi dengan sumbangkan 63% terhadap total portofolio pembiayaan. Selain itu, pembiayaan perumahan non-subsidi berkontribusi 31%.
Segmen subsidi tetap menjadi andalan. BTN Syariah merupakan bank penyalur kedua setelah BTN konvensional dengan pangsa pasar 21%. Data BP Tapera, per 23 Juli 2024 BTN Syariah telah menyalurkan pembiayaan untuk 20.773 unit dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Meski tumbuh agresif, kualitas pembiayaan terus mengalami perbaikan. Rasio Non Performing Financing turun dari 3,3% di Juni 2023 menjadi 2,8% di Juni 2024. Berkat penurunan NPF, BTN mengalokasikan pencadangan yang lebih sedikit di mana NPF coverage turun daru 158% menjadi 125%.
Di sisi lain, sejalan dengan ekspansi pembiayaan, aset BTN Syariah mencapai Rp56 triliun. Hal itu membuat BTN Syariah perlu memisahkan diri dari induk sesuai dengan ketentuan POJK POJK 12 Tahun 2023 tentang Unit Usaha Syariah yang mewajibkan pemisahan atau spin off saat aset telah menyentuh Rp50 triliun.
Baca Juga
Kinerja Mei dan Isu Muamalat Jadi Booster BTN (BBTN) Semester II-2024
Nixon mengatakan, BTN tengah mempersiapkan proses spin off dan diharapkan dapat tuntas pada semester pertama 2025. BTN telah menyiapkan dana Rp1,5 triliun hingga Rp6 triliun untuk permodalan BTN Syariah sehingga tetap bertahan di Kelompok Bank Modal Inti II.
"Kinerja organik BTN Syariah sejauh ini menunjukkan tren yang sangat positif. Namun kami juga masih membuka peluang dan mempelajari situasi di market untuk pertumbuhan anorganik di masa mendatang," ujarnya.
Grafik Saham BBTN

