Saham AMMN hingga BREN Terancam Forced Selling Usai Dicoret MSCI
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Pasar saham Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan jangka pendek setelah pengumuman MSCI indexes menunjukkan lebih banyak saham domestik keluar, dibandingkan ekspektasi pasar.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu arus keluar dana asing, terutama dari investor institusi global yang menjadikan MSCI sebagai acuan investasi.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai bahwa keluarnya sejumlah saham berkapitalisasi besar dari MSCI Global Standard akan memberikan sentimen negatif terhadap pasar saham domestik.
Baca Juga
MSCI Keluarkan 6 Saham dari Global Standard Index, Ada BREN, AMMN, dan DSSA
Saham-saham seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), hingga PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) disebut berpotensi mengalami tekanan jual menjelang effective date pada 1 September 2026.
“Keluarnya saham-saham tersebut dari MSCI Standard berpotensi memicu forced selling dari fund global yang benchmark terhadap MSCI. Tekanan kemungkinan paling terasa di saham-saham terkait pada sesi hari ini hingga menjelang effective date 1 September 2026,” ujar Elandry, Rabu (13/5/2026).
Menurut dia, sentimen tersebut juga memperkuat persepsi bahwa bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets semakin mengecil.
Baca Juga
Berikut Daftar 11 Saham Penghuni MSCI Global Standard, BRPT hingga BRMS masih Bertahan
Dampaknya dinilai tidak hanya terbatas pada arus keluar dana asing jangka pendek, tetapi juga dapat mengurangi visibilitas pasar Indonesia di mata investor global.
“Dalam beberapa tahun terakhir, market asing memang cenderung semakin selektif terhadap emerging market yang likuiditasnya menurun dan governance-nya dipersepsikan kurang menarik,” katanya.
Terkait estimasi potensi outflow, Elandry menyebut nilainya sulit dihitung secara presisi karena bergantung pada bobot masing-masing saham dan positioning fund global.
Meski demikian, pasar memperkirakan dana asing yang keluar secara bertahap menjelang tanggal efektif MSCI dapat mencapai ratusan juta dolar AS, terutama berasal dari passive funds dan ETF yang wajib mengikuti komposisi indeks.
Baca Juga
Integrasi MUFG-BDMN Buka Peluang Tender Offer, Skenario Paling Konservatif di Harga Ini
Ke depan, pasar saham Indonesia diperkirakan masih menghadapi sejumlah tantangan mulai dari berkurangnya partisipasi investor asing, pelemahan likuiditas pasar, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, hingga meningkatnya persepsi risk premium Indonesia.
Namun demikian, kondisi tersebut juga dinilai dapat membuka peluang technical rebound setelah tekanan forced selling mereda, terutama pada saham-saham yang secara fundamental masih baik namun terkena aksi jual teknikal akibat MSCI.
“Dalam jangka pendek market cenderung defensif dan volatile. Investor kemungkinan akan lebih selektif memilih saham yang likuid, fundamental kuat, valuasi menarik, dan minim risiko foreign outflow lanjutan,” ungkap Elandry.

