IHSG Anjlok Hampir 7% Sepekan, Analis Ungkap Pemicu Berikut
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia terkoreksi hampir 7% dalam sepekan, dari level 7.663 di awal pekan menjadi 7.129 pada penutupan hari ini.
Sejumlah faktor menekan pergerakan IHSG, salah satunya keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia periode Mei 2026.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai, tekanan pasar perlu dilihat dalam konteks global yang masih diliputi ketidakpastian.
Baca Juga
Bank Jago Cetak Laba Bersih Rp 86 Miliar di Kuartal I 2026, Melesat 42%
“Pelemahan rupiah saat ini lebih mencerminkan kombinasi sentimen risk-off global dan meningkatnya risk premium domestik, bukan disebabkan oleh krisis kebijakan yang ekstrem,” ujar Rully secara tertulis, Jumat (24/4/2026).
Rupiah ditutup di level Rp17.278 per dolar AS pada 23 April 2026, melemah sekitar 3,5% sejak awal tahun. Meski demikian, pelemahan tersebut masih relatif lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang negara berkembang lain seperti rupee India dan lira Turki.
MSCI menyatakan pembekuan dilakukan sambil mengevaluasi konsistensi dan efektivitas kebijakan baru otoritas pasar modal Indonesia, terutama terkait transparansi kepemilikan saham dan rencana kenaikan batas minimum free float menjadi 15%.
Baca Juga
IHSG Akhir Pekan Anjlok 3,38%, Sebaliknya Tiga Saham Ini masih Perkasa
Selain itu, MSCI menunda penambahan Foreign Inclusion Factors (FIF) serta perubahan klasifikasi sejumlah saham Indonesia dalam indeksnya.
Di sisi lain, otoritas pasar modal Indonesia menunjukkan progres reformasi yang cukup signifikan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah menyelesaikan empat dari delapan agenda reformasi transparansi pasar modal yang diumumkan pada awal April 2026.
Langkah tersebut mencakup publikasi daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, pengungkapan kepemilikan saham di atas 1% secara bulanan, perluasan klasifikasi investor KSEI, serta penerapan aturan minimum free float 15%.
Baca Juga
Harga Kripto Berguguran, Transaksi Perdagangan Nasional dan Global Kompak Lesu
Menurut Rully, reformasi yang telah dijalankan menjadi sinyal positif bagi pasar. Penguatan IHSG sejak awal April menunjukkan kepercayaan investor terhadap komitmen reformasi masih terjaga.
“Pasar kini akan mencermati sejauh mana konsistensi reformasi dapat dipertahankan dan bagaimana MSCI menilai efektivitas kebijakan yang telah diterapkan,” ujarnya.
Sejak pengumuman reformasi pada 2 April 2026, IHSG tercatat menguat sekitar 8%, meskipun volatilitas pasar masih tinggi. Fokus investor selanjutnya tertuju pada MSCI Index Review pada 12 Mei 2026 dan hasil Market Accessibility Review pada Juni 2026.
Kedua agenda tersebut akan menjadi penentu arah pasar domestik dan persepsi investor global terhadap pasar modal Indonesia.

