Harga Masih Bergejolak di US$ 75.000 hingga Bitcoin Dibidik Jadi Alat Pembayaran Lintas Negara di Tengah Kisruh Geopolitik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Aset kripto Bitcoin kembali menjadi sorotan di tengah dinamika geopolitik global. Chief Investment Officer Bitwise Asset Management, Matt Hougan, menilai Bitcoin berpotensi berevolusi dari sekadar penyimpan nilai menjadi alat pembayaran lintas negara.
Pernyataan tersebut mencuat setelah munculnya wacana penggunaan Bitcoin dalam transaksi terkait jalur strategis Selat Hormuz. Dalam skenario tersebut, disebutkan adanya rencana penerapan biaya setara US$ 1 per barel minyak yang dibayarkan menggunakan Bitcoin, yang berpotensi menghasilkan hingga US$ 20 juta per hari.
Hougan menilai perkembangan ini mencerminkan perubahan lanskap sistem keuangan global, di mana aset kripto mulai dipandang sebagai alternatif di tengah meningkatnya “politisasi” sistem keuangan konvensional. “Bitcoin muncul sebagai opsi yang lebih netral secara politik dalam kondisi tertentu,” ujarnya melansir Bitcoin.com, Jumat (17/4/2026).
Baca Juga
Laju Bitcoin Tersendat Saat Nasdaq dan S&P 500 Melonjak ke Rekor Tertinggi Baru
Menurutnya, selama ini Bitcoin lebih dikenal sebagai “emas digital” atau aset lindung nilai. Namun, potensi penggunaan sebagai mata uang riil membuka peluang baru yang dapat mendorong valuasi lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya.
Sebelumnya, Bitwise memperkirakan harga Bitcoin dapat mencapai US$1 juta dalam satu dekade ke depan, dengan asumsi mampu menguasai sekitar 17% dari pasar aset penyimpan nilai global senilai US$ 38 triliun. Namun, jika fungsi Bitcoin meluas menjadi alat transaksi, proyeksi tersebut dinilai masih berpotensi direvisi ke level yang lebih tinggi.
Meski demikian, Hougan menekankan bahwa skenario tersebut masih bersifat spekulatif. Ia menyebut adopsi Bitcoin sebagai mata uang global tetap menghadapi tantangan besar, meski peluangnya kini dinilai semakin realistis seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan volatilitas sistem moneter dunia.
Baca Juga
Harga Bitcoin dan Saham Indokripto Koin Semesta (COIN) Kompak Menguat, Saatnya Bangkit?
Menyoal harga, pergerakan Bitcoin menunjukkan volatilitas tinggi dalam 24 jam terakhir, dengan harga berulang kali menembus level US$ 75.000 namun gagal bertahan akibat tekanan jual di pasar.
Berdasarkan data perdagangan, Bitcoin sempat beberapa kali melampaui level tersebut pada Rabu malam, sebelum terkoreksi dan bergerak fluktuatif di kisaran US$ 73.000 hingga US$ 75.000. Pada perdagangan terakhir, harga Bitcoin berada di sekitar US$ 74.200 dengan kapitalisasi pasar relatif stabil di kisaran US$ 1,48 triliun.
Pergerakan ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen geopolitik dan data ekonomi global. Isu potensi negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi psikologi pasar. Di sisi lain, data klaim pengangguran AS yang lebih lemah dari ekspektasi serta arus masuk dana ke instrumen exchange-traded fund (ETF) turut membentuk arah pergerakan harga.
Volatilitas yang terjadi juga memicu likuidasi besar di pasar derivatif kripto. Data Coinglass mencatat sekitar US$ 70 juta posisi long dan US$ 67 juta posisi short dilikuidasi dalam 24 jam terakhir, dengan total lebih dari 8.000 trader terdampak.
Di tengah fluktuasi tersebut, optimisme terhadap prospek Bitcoin masih terjaga. Kepala analis MEXC Research, Shawn Young, menilai ketegangan geopolitik cenderung telah diperhitungkan pasar, sehingga dampaknya terhadap harga mulai terbatas.
Ia menyebut sentimen pasar kini mulai condong ke arah resolusi konflik, yang mendorong harga sempat menembus US$ 76.000. Selain itu, akumulasi lebih dari 250.000 BTC oleh investor dalam 30 hari terakhir dinilai memperkuat peran Bitcoin sebagai aset lindung nilai.
Dengan tren historis yang menunjukkan April sebagai bulan positif bagi kripto, Young memperkirakan Bitcoin berpotensi melanjutkan penguatan hingga mendekati level US$ 85.000, selama tidak ada gangguan signifikan dari perkembangan geopolitik maupun ekonomi global.

