Prospek Saham Konsumer Cenderung Membaik, Intip Target Harga Berikut
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek sektor barang konsumsi di Indonesia mulai menunjukkan arah yang lebih positif seiring perbaikan daya beli masyarakat dan dorongan stimulus pemerintah. Kondisi ini membuka peluang bagi sejumlah saham di sektor konsumer.
Laporan riset dari CGS International mencatat pertumbuhan penjualan emiten konsumer menunjukkan peningkatan secara bertahap sepanjang year to date (ytd) 2026. Kenaikan ini didukung momentum musiman, seperti Ramadan dan Lebaran, serta penyaluran bantuan sosial yang mendorong konsumsi, khususnya kelompok masyarakat menengah ke bawah.
Baca Juga
Saham Sektor Konsumer Primer BEI Turun Tajam 14,55 Ytd, Masih Ada Harapan?
Dari sisi kinerja, segmen mass market dan fast moving consumer goods (FMCG) menjadi penopang utama dengan pertumbuhan relatif kuat. Perbaikan ini mencerminkan mulai pulihnya daya beli masyarakat untuk kebutuhan pokok.
Adapun segmen non-esensial atau discretionary cenderung tumbuh terbatas dipengaruhi sikap hati-hati masyarakat dalam membelanjakan uangnya, terutama untuk kebutuhan di luar barang pokok.
Melihat pola tersebut, sejumlah saham sektor konsumer direkomendasikan dengan rating overweight. Saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) direkomendasikan add dengan target harga Rp 1.000 per saham, didukung kenaikan harga produk yang konsisten dan potensi perbaikan margin pada 2026.
Selanjutnya, saham PT Mayora Indah Tbk (MYOR) direkomendasikan add dengan target harga Rp 2.740 per saham, seiring penurunan harga bahan baku seperti kakao, gula, dan minyak yang berpotensi memperkuat margin perseroan.
Baca Juga
Alfamart (AMRT) Tancap Gas Buka 1.000 Toko Baru di 2026, Bagaimana Prospek Kinerja dan Sahamnya?
Begitu juga dengan saham PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) dipatok target harga Rp 490 per saham, dengan prospek pertumbuhan yang didukung ekspansi ekonomi di luar Pulau Jawa serta peningkatan margin setelah divestasi bisnis Lawson.
Ke depan, sektor konsumer dinilai masih memiliki prospek yang cukup menarik meski pertumbuhannya diperkirakan lebih moderat. Faktor pendorong utama berasal dari berlanjutnya pemulihan konsumsi masyarakat, dukungan kebijakan pemerintah, serta momentum musiman yang berulang setiap tahun.
Namun demikian, sejumlah risiko tetap perlu diperhatikan, mulai dari potensi perlambatan belanja non-esensial, efisiensi anggaran pemerintah, hingga tekanan ekonomi yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat.

