Rupiah Tembus Rp17.105 per Dolar AS, BI Prioritaskan Stabilitas Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, memberikan penjelasan resmi mengenai perkembangan nilai tukar rupiah yang terus tertekan. Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa sore (7/4/2026) pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda tercatat menembus level Rp17.105 per dolar AS di tengah gejolak pasar global.
Destry menegaskan bahwa di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, stabilitas nilai tukar kini menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia. Untuk menjaga kepercayaan pasar, bank sentral akan mengoptimalkan seluruh instrumen serta kebijakan operasi moneter yang tersedia guna meredam volatilitas.
"Bank Indonesia secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik melalui intervensi di spot market, DNDF, maupun NDF di offshore market," ujar Destry dalam keterangan resminya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dampak konflik di Timur Tengah sebenarnya bersifat dua arah bagi Indonesia. Di satu sisi, kenaikan harga komoditas akibat konflik tersebut memberikan keuntungan bagi Indonesia sebagai negara eksportir. Pendapatan ekspor yang meningkat diharapkan dapat memberikan efek positif bagi perekonomian nasional sekaligus mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi geopolitik.
Merespons kondisi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kepercayaan penuhnya kepada otoritas moneter untuk menangani volatilitas rupiah. Purbaya menyerahkan sepenuhnya strategi stabilisasi mata uang kepada Bank Indonesia yang dinilai memiliki keahlian teknis di bidang tersebut.
Baca Juga
Respons Airlangga soal Rupiah Anjlok ke Rp 17.105 per US$: Currency Lain Juga
"Kita serahkan ke bank sentral, kepada ahlinya. Saya percaya Bank Indonesia bisa memperbaikinya," ungkap Purbaya saat melakukan taklimat media di Jakarta.
Senada dengan Purbaya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa depresiasi mata uang merupakan fenomena yang melanda banyak negara, bukan hanya Indonesia. Usai mengikuti rapat di Istana Kepresidenan, Airlangga memaparkan bahwa sejumlah mata uang negara mitra dagang seperti yen Jepang, ringgit Malaysia, baht Thailand, dan peso Filipina juga mengalami pelemahan signifikan terhadap dolar AS.
Meskipun demikian, data hingga pukul 17.41 WIB, Selasa (7/4/2026) terjadi pergerakan yang variatif di pasar regional.
Di saat rupiah dan beberapa mata uang Asia lainnya melemah, yuan China, rupee India, dan dolar Singapura justru terpantau mengalami penguatan tipis terhadap dolar AS. Pemerintah dan Bank Indonesia memastikan akan terus memantau dinamika ini untuk menjaga daya tahan ekonomi domestik.

