Respons Airlangga soal Rupiah Anjlok ke Rp 17.105 per US$: Currency Lain Juga
JAKARTA, investortrust.id - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 70 poin atau 0,41% menuju level Rp 17.105 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026). Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp 17.092 per dolar AS.
Baca Juga
IHSG dan Rupiah Kompak Melemah, Ketahanan Ekonomi Disorot di Tengah Tekanan Global
Airlangga menyatakan, rupiah bukan satu-satunya mata uang yang melemah pada hari ini. Kondisi serupa juga terjadi pada banyak mata uang negara lainnya.
“Itu bukan hanya rupiah, berbagai currency lain juga demikian,” kata Airlangga di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Sebelumnya, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai ruang ketahanan ekonomi domestik terhadap guncangan eksternal semakin terbatas, tercermin dari pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) ke bawah 7.000 dan nilai tukar rupiah yang bertahan di atas Rp 17.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 14.31 WIB, IHSG berada di level 6.962,72 atau turun 0,38% pada perdagangan Selasa (7/4/2026) dengan nilai transaksi mencapai Rp 9,66 triliun. Rentang pergerakan indeks di bawah 7.000 ini telah berlangsung dalam dua hari terakhir.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, mengatakan IHSG saat ini masih berada dalam fase konsolidasi bearish.
“IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support di 6.892 hingga 6.731, sementara resistance terdekat berada di kisaran 7.117 hingga 7.222,” ujarnya di Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Selama IHSG belum mampu menembus level resistance tersebut, dia mengatakan, tekanan jual diperkirakan mendominasi dalam jangka pendek. Meski demikian, peluang investor untuk tetap cuan dari trading tetap terbuka secara selektif.
Sementara itu, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai pergerakan rupiah yang bertahan di atas Rp 17.000 menunjukkan Bank Indonesia mulai memberikan ruang penyesuaian yang lebih luas setelah periode intervensi yang agresif.
Dalam dua bulan pertama 2026, cadangan devisa tercatat menyusut sekitar US$ 4,6 miliar, dibandingkan posisi akhir 2025, seiring pembayaran utang valas dan langkah stabilisasi nilai tukar.
Rully menambahkan, pelemahan IHSG yang berada di bawah level 7.000 dan rupiah yang bertahan di atas Rp 17.000 mencerminkan peningkatan sentimen risk-off di pasar domestik.
“Dalam kondisi ini, ruang stabilisasi menjadi semakin terbatas, terutama di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi,” kata Rully.
Mirae Asset menilai tekanan pasar masih berpotensi berlanjut, terutama jika arus keluar dana asing meningkat ke kisaran Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun per hari dalam jangka pendek.
Ke depan, tekanan diperkirakan tetap berlanjut seiring eskalasi geopolitik dan kenaikan harga minyak, yang berpotensi membebani mata uang negara net importir seperti Indonesia.
Baca Juga
IHSG Merosot ke Level 6.971, Tiga Saham justru ARA Dipimpin PMJS
Dari sisi fiskal, kebijakan pemerintah menahan harga BBM untuk menjaga daya beli turut mendorong defisit APBN hingga Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,9% PDB, meningkat dari 0,4% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Upaya menjaga stabilitas tetap penting, namun konsekuensinya adalah meningkatnya tekanan terhadap fiskal dan cadangan devisa,” ujar Rully.

