Rupiah Anjlok ke Rp 17.300 per Dolar AS, Airlangga: BI Bertugas Jaga Stabilitas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level Rp 17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) di tengah gejolak pasar keuangan global. Pemerintah menyatakan terus memantau pergerakan tersebut tanpa bersikap reaktif terhadap fluktuasi harian.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pelemahan rupiah tidak terjadi secara sendiri, melainkan juga dialami oleh mata uang lain di kawasan. “Ya kita monitor aja. Karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak,” ujar Airlangga di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Ia menegaskan bahwa faktor eksternal menjadi penyebab utama tekanan terhadap nilai tukar, seiring kondisi global yang masih diliputi ketidakpastian. “Global bergejolak, global juga kita monitor,” imbuhnya.
Baca Juga
IHSG Mendadak Terjun 1,27% ke Bawah 7.500, Saham Tekanan Datang dari BREN dan DSSA
Pelemahan rupiah hingga ke level Rp 17.300 per dolar AS menjadi perhatian, karena telah melampaui asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Meski demikian, pemerintah menilai respons kebijakan tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa hanya berdasarkan pergerakan harian pasar.
“Antisipasinya tuh, nanti kita monitor aja. Karena ini kan tidak bisa dilihat setiap hari reaktif,” jelasnya.
Terkait stabilisasi nilai tukar, Airlangga menegaskan, bahwa peran tersebut berada pada otoritas moneter. “Kita monitor saja dan itu BI tugasnya menjaga (stabilitas nilai tukar),” katanya.
Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis pagi (23/4/2026) pukul 09.11 WIB, rupiah tercatat melemah 0,61% ke level Rp17.286 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring tekanan eksternal dari ketegangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
Baca Juga
Hilirisasi Masih Jadi Primadona, Sumbang Realisasi Investasi Rp 147,5 Triliun di Triwulan I 2026
Tren pelemahan juga terjadi pada sejumlah mata uang Asia lainnya. Rupee India melemah 0,32%, ringgit Malaysia turun 0,09%, dan peso Filipina melemah 0,45%. Dolar Singapura dan baht Thailand masing-masing turun 0,02% dan 0,32%.
Sementara itu, beberapa mata uang mencatat penguatan tipis, seperti dolar Hong Kong naik 0,02%, yen Jepang menguat 0,01%, dan yuan China naik 0,04%.
Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya volatilitas pasar keuangan global serta sensitivitas rupiah terhadap dinamika eksternal, termasuk konflik geopolitik dan arah suku bunga Amerika Serikat.

