Dolar Menguat di Tengah Konflik Timur Tengah, Bagaimana Nasib Bitcoin?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id –Penguatan indeks dolar AS yang mendekati level tertinggi dalam tiga bulan terakhir memicu kekhawatiran pelaku pasar kripto terhadap prospek harga Bitcoin (BTC). Namun, di tengah tekanan tersebut, Bitcoin masih mampu bertahan di kisaran US$ 68.000.
Pada perdagangan Selasa, indeks dolar AS naik ke level 99,4 dari posisi 96,6 tiga pekan sebelumnya. Penguatan dolar AS mencerminkan peningkatan permintaan aset safe haven seperti kas dan obligasi pemerintah di tengah ketidakpastian global, termasuk meningkatnya risiko konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Secara historis, penguatan dolar AS kerap memberi tekanan terhadap aset berisiko, termasuk kripto. Sebaliknya, pelemahan DXY biasanya beriringan dengan penguatan Bitcoin, seperti yang terjadi pada periode Maret hingga Agustus 2025.
Meski demikian, secara struktural DXY masih berada di bawah kisaran 105–110 yang sempat bertahan pada November 2024 hingga Maret 2025. Hal ini mengindikasikan bahwa pergerakan dolar dalam 12 bulan terakhir lebih mencerminkan fase konsolidasi dibanding tren penguatan jangka panjang.
Di sisi lain, korelasi 30 hari antara Bitcoin dan indeks Nasdaq 100 tercatat turun menjadi 69%, dari sebelumnya 92% sepekan lalu. Penurunan korelasi ini menunjukkan mulai terlepasnya pergerakan Bitcoin dari saham teknologi, meskipun Nasdaq 100 hanya sekitar 6% di bawah rekor tertingginya.
Melansir Cointelegraph, Rabu (4/3/2026) analis menilai perubahan karakter pasar Bitcoin yang kerap dipandang sebagai emas digital, sistem moneter independen, hingga aset spekulatif membuat prediksi berbasis pergerakan dolar semata menjadi kurang relevan.
Tekanan sentimen terhadap Bitcoin juga dipengaruhi sejumlah faktor lain, mulai dari koreksi tajam pada 10 Oktober 2025, kekhawatiran perkembangan komputasi kuantum, hingga kekecewaan pasar atas lambatnya realisasi Cadangan Bitcoin Strategis AS.
Baca Juga
Kabar terkait strategi cadangan Bitcoin sejumlah perusahaan penambang juga sempat memicu kekhawatiran. Isu bahwa beberapa emiten berpotensi melikuidasi kepemilikan Bitcoin sempat menekan harga, meski telah dibantah oleh manajemen perusahaan terkait.
Meski demikian, terdapat sinyal positif dari sisi institusional. Sejak 24 Februari, dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) berbasis Bitcoin mencatat arus masuk bersih sebesar US$1,5 miliar, mengindikasikan minat investor besar mulai kembali meningkat.
Pelaku pasar menilai Bitcoin masih menghadapi tantangan untuk sepenuhnya keluar dari tren bearish setelah terkoreksi 52% dari rekor tertinggi sepanjang masa. Banyak analis memperkirakan konfirmasi berakhirnya pasar bearish baru akan terlihat jika harga mampu menembus level US$ 75.000 secara meyakinkan.
Sementara itu, penguatan Indeks Dolar AS diperkirakan tetap menjadi faktor penekan jangka pendek bagi Bitcoin, meskipun hubungan korelatif keduanya saat ini tidak sekuat periode-periode sebelumnya.
Baca Juga
Bitcoin Dinilai Sulit Jadi Mata Uang Global, Ini Pandangan Co Founder Wikipedia
Secara terpisah, harga aset kripto Bitcoin pada perdagangan Rabu (4/3/2026) pukul 07.30 WIB kembali ke kisaran US$ 68.265 atau turun tipis 0,70% dalam 24 jam. Padahal BTC sempat melonjak signifikan hingga menyentuh US$ 70.000 pada Senin (2/3/2026) malam, level yang terakhir kali terlihat pada 15 Februari 2026.
“Pergerakan positif ini terjadi bersamaan dengan menguatnya Emas, meskipun konflik militer antara Amerika Serikat-Israel terhadap Iran telah memasuki hari ketiga,” jelas Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha, Selasa (3/3/2026).
Dia merinci, harga emas (XAUT) naik 1,3% ke level US$ 5.300 per ounce, perak (SLVON) justru merosot tajam sebesar 7% ke level US$ 88 per ounce. Menurut Panji, harga Bitcoin menunjukkan pembalikan dramatis dari kekhawatiran awal konflik. Presiden Donald Trump menyatakan dari Gedung Putih bahwa operasi militer skala besar masih berlangsung untuk menghancurkan kemampuan rudal Iran.
Di tengah ketidakpastian akibat penutupan Selat Hormuz yang mengguncang pasar energi, pasar kripto Selasa siang kemarin menunjukkan reaksi unik dengan penguatan signifikan pada sejumlah altcoin dalam periode 7 hari terakhir.
Altcoin Hyperliquid (HYPE) memimpin dengan kenaikan tajam 23,02%, disusul Solana (SOL) yang melonjak 10,14%, Ethereum (ETH) 8,52%, dan BNB yang menguat 6,45%. Sementara pada Rabu pagi ini, empat altcoin tersebut turun 3,65% (HYPE), naik 0,16% (SOL), turun 3,10% (ETH), turun 0,85% (BNB).
Di sisi lain, Strategy Inc kembali memperkuat neraca keuangannya dengan membeli 3.015 BTC senilai kurang lebih US$ 204 juta. Pembelian ini dilakukan antara 23 Februari hingga 1 Maret dengan harga rata-rata US$ 67.700 per koin.
“Dengan aksi korporasi terbaru ini, Strategy Inc kini menguasai total 720.737 BTC. Total biaya akuisisi perusahaan kini mencapai sekitar US$ 54,77 miliar dengan basis biaya rata-rata sebesar US$ 75.985 per BTC,” papar Panji.
Widget
Powered by Investing.com
Analisa saham dan kripto dengan mudah dan cepat dengan InvestingPro, dapatkan diskon tambahan khusus untuk pembaca Investortrust, klik di sini

