Perang Timur Tengah Tekan Pasar, BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Ketidakpastian global akibat berlanjutnya konflik di Timur Tengah mulai memberi tekanan yang semakin nyata terhadap inflasi, pasar keuangan, dan ruang kebijakan moneter, baik di tingkat global maupun domestik. Dalam Weekly Economic Update W3 Maret 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, dan diterbitkan di Jakarta pada 25 Maret 2026, BRI menilai lonjakan harga minyak dan meningkatnya persepsi risiko global menjadi faktor utama yang membayangi stabilitas ekonomi tahun ini.
BRI mencatat inflasi global berisiko meningkat dalam jangka pendek setelah harga minyak Brent melonjak tajam. Pada pekan ketiga Maret 2026, Brent tercatat naik 8,8% secara mingguan menjadi US$112,2 per barel, dipicu berlanjutnya disrupsi pasokan di Selat Hormuz akibat konflik Iran dengan AS dan Israel. Kenaikan harga energi ini telah mendorong estimasi inflasi global versi Bloomberg kembali naik ke 3,61% secara tahunan pada pertengahan Maret 2026. Meski harga futures Brent diperkirakan menurun pada akhir tahun, BRI menilai rata-rata harga minyak pada beberapa kuartal ke depan masih akan tetap tinggi sehingga tekanan inflasi global belum akan cepat mereda.
Di Amerika Serikat, The Fed pada FOMC Maret 2026 mempertahankan Federal Funds Rate di level 3,75%. Dot plot The Fed memang masih membuka ruang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin sepanjang 2026, namun pasar justru melihat suku bunga acuan AS cenderung tetap bertahan di level tersebut sepanjang tahun. Menurut BRI, perbedaan pandangan ini mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa lonjakan harga minyak dapat kembali mendorong inflasi AS ke kisaran 2,7% hingga 3,5%, sehingga ruang pelonggaran moneter menjadi sangat terbatas.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga di Tengah Perang AS-Israel vs Iran dan Inflasi yang Memburuk
Tekanan global itu merembet ke pasar keuangan internasional. Volatilitas pasar obligasi global meningkat, tercermin dari kenaikan indeks MOVE, sementara persepsi risiko investasi global melalui premi CDS 5 tahun juga naik di banyak negara, terutama di kawasan Timur Tengah. Emerging markets masih mencatat arus keluar modal bersih, meski nilainya menurun dibanding pekan sebelumnya. Menurut laporan BRI, kondisi ini menegaskan bahwa investor global masih berada dalam mode risk-off.
Di pasar valas, dolar AS memang melemah tipis, dengan indeks DXY turun ke 99,65. Namun pelemahan dolar tidak diikuti penguatan mata uang negara berkembang. Mayoritas mata uang emerging markets justru tetap terdepresiasi, menandakan tekanan lebih banyak berasal dari sentimen risiko global ketimbang dari pergerakan dolar itu sendiri. Rupiah tercatat melemah terbatas 0,24% secara mingguan, yang dinilai masih relatif lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang negara berkembang lainnya.
Untuk domestik, BRI menilai Bank Indonesia masih akan sangat berhati-hati. Pada RDG Maret 2026, BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75% dengan prioritas utama menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global. BRI memperkirakan BI-Rate berpotensi tetap berada di level itu hingga akhir 2026. Meski inflasi domestik diproyeksikan masih berada dalam kisaran target BI sebesar 1,5% hingga 3,5%, faktor nilai tukar rupiah disebut menjadi binding constraint yang membatasi ruang pelonggaran suku bunga.
Dalam proyeksinya, BRI memperkirakan inflasi Indonesia pada skenario dasar berada di kisaran 2,86% pada akhir 2026. Namun dalam skenario dampak perang, inflasi dapat naik ke sekitar 3,42%. Artinya, tekanan eksternal dari lonjakan energi memang dapat menahan proses normalisasi inflasi, tetapi secara umum belum mendorong inflasi keluar dari target BI.
Dari sisi sektor eksternal, BRI juga menyoroti memburuknya posisi investasi internasional Indonesia. Defisit Posisi Investasi Internasional Indonesia naik menjadi US$ 272,6 miliar pada kuartal IV-2025, dari US$ 261,8 miliar pada kuartal III-2025. Kenaikan defisit ini mencerminkan ketergantungan pembiayaan eksternal yang masih tinggi, terutama karena naiknya liabilitas portofolio dan investasi langsung. Menurut BRI, peningkatan liabilitas portofolio perlu dicermati karena sifatnya yang likuid dan sensitif terhadap perubahan sentimen pasar.
Baca Juga
Tekanan juga terlihat di pasar keuangan domestik. IHSG pada W3 Maret 2026 melemah tipis 0,43% secara mingguan ke level 7.107, terutama akibat koreksi saham-saham berkapitalisasi besar di sektor energi dan real estat. Di pasar obligasi, yield SBN naik di seluruh tenor, sejalan dengan peningkatan premi risiko Indonesia yang tercermin dari CDS 5 tahun yang naik 9,42 basis poin menjadi 101,87. Sementara itu, operasi moneter BI untuk menjaga rupiah juga membuat yield SRBI meningkat dan outstanding SRBI terus bertambah hingga mencapai Rp831,55 triliun pada 13 Maret 2026.
Bagi industri perbankan, laporan ini membawa tiga implikasi utama. Pertama, tekanan di pasar obligasi dan kenaikan yield berpotensi memicu mark-to-market loss pada portofolio surat berharga perbankan, sehingga manajemen risiko pasar perlu diperkuat. Kedua, ruang penurunan cost of fund semakin terbatas karena suku bunga global dan domestik cenderung bertahan tinggi di tengah risiko inflasi energi. Ketiga, permintaan kredit ke depan berpotensi lebih selektif, terutama dari sektor-sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya dan volatilitas harga energi.
Secara keseluruhan, laporan BRI menegaskan bahwa ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan, tetapi harus menghadapi kombinasi tekanan eksternal yang tidak ringan: lonjakan harga minyak, volatilitas pasar global, tekanan terhadap rupiah, dan meningkatnya premi risiko. Dalam situasi seperti ini, stabilitas menjadi kata kunci, sementara ruang pelonggaran kebijakan semakin sempit.

