Harga Minyak Bisa US$ 200 per Barel? Purbaya: Nggak Akan!
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis proyeksi bahwa konflik di Timur Tengah antara Iran dan duet Israel-Amerika Serikat yang berujung pada blokade Selat Hormuz bakal berujung pada kenaikan fantastis harga minyak dunia, hingga mencapai US$ 200 per barrel.
“Nggak akan sampai US$ 200 per barel,” tegas Purbaya di Komplek Istana Kepresidenan, Kamis (19/3/2026), menjawab pertanyaan awak media mengenai proyeksi harga minyak mentah bisa mencapai US$ 200 per barrel.
Ancaman harga minyak mentah dunia bisa mencapai US$ 200 per barel sejatinya disampaikan oleh Ebrahim Zolfaqari, juru bicara markas komando militer Khatam al-Anbiya yang berbasis di Teheran.
Saat itu, persisnya pada Rabu, 11 Maret 2026 lalu ketika duet pasuken Israel dan Amerika Serikat makin intens melakukan penyerangan terhadap Iran, dan menyasar para pejabat kunci negeri para Mullah tersebut, Ebrahim mengatakan agar Amerika dan dunia bersiap-siap menerima harga minyak hingga US$ 200 per barel.
“Bersiaplah harga minyak mencapai 200 dolar per barel karena harga minyak bergantung pada keamanan regional yang telah Anda bikin tidak stabil,” ujar Ebrahim Zolfaqari dalam tayangan video di sejumlah media sosial hari itu.
Menurut Purbaya, ia pernah menyampaikan bahwa potensi skenario kenaikan harga minyak hingga US$ 200 per barel tak akan terjadi, kendati bukan pada saat terjadinya perang saat ini.
Baca Juga
Sekutu AS Enggan Kawal Tanker di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Tembus US$ 103
Jika pun harga bisa mencapai angka tertinggi, kata Purbaya, maka dalam waktu singkat akan diikuti oleh anjloknya harga ke level terendah. Pasalnya begitu harga naik sangat tinggi, negara yang membutuhkan minyak tak akan mampu membayar harganya dan memilih untuk tidak membeli minyak.
Akhirnya yang terjadi adalah resesi, dan saat resesi terjadi maka bisa dipastikan kebutuhan terhadap minyak mentah akan turun drastis.
“Tahun 2013 kalau nggak salah, mereka bilang (pengamat) juga sama (para) ekonom mengatakan, harga minyak akan naik ke US$ 200 per barrel. (Yang terjadi harga minyak mentah) naik sampai US$ 150 (per barel) Habis itu jatuh. Kenapa? Ekonomi dunia tidak bisa menyesuaikan diri dengan harga seperti itu. Akibatnya resesi. Kalau resesi demand turun, harga akan collapse. Hampir pasti,” ujar Purbaya.
Sang bendahara negara juga menyampaikan, jika harga minyak mentah benar-benar mencapai angka US$ 200 per barel, maka periode kenaikannya hanya akan berlangsung singkat, dan akan segera diikuti oleh penurunan harga.
“Jadi kalau (harga minyak mencapai) US$ 200, saya bilang ya paling mungkin sebentar, 1 menit, 2 menit terus jatuh lagi,” kata Purbaya, menegaskan bahwa harga minyak yang terlalu tinggi hampir dipastikan akan segera diikuti oleh resesi.
Bahkan ia juga menyampaikan fakta bahwa saat resesi, harga minyak future bisa saja dihargai negatif, alias minus.
Minyak mentah harganya sampai minus? Apa benar?
Apa yang disampaikan Purbaya ini sejatinya benar terjadi ketika dunia mulai diselimuti pandemi Virus Corona di awal tahun 2020 lalu. Ketika hampir semua negara menerapkan lock down, aktivitas perekonomian dunia mengalami stagnasi.
Akibatnya para penjual minyak mentah yang telah menyimpan ratusan ton minyak mentah dalam tanki-tanki penyimpanan mengalami kerugian karena harus terus membayar sewa penampungan. Termasuk yang ditampung di sejumlah kapal tanker yang tak bisa bergerak kemanapun.
Pada pekan ketiga April 2020, harga minyak mentah di pasar AS menjadi negatif untuk pertama kalinya dalam sejarah. Bahkan para produsen minyak sampai harus membayar pembeli agar mau mengambil komoditas tersebut, karena kekhawatiran kapasitas penyimpanan akan habis pada bulan berikutnya.
Permintaan minyak hampir sepenuhnya mengering akibat kebijakan lockdown di seluruh dunia. Perusahaan minyak terpaksa menyewa kapal tanker untuk menyimpan kelebihan pasokan, dan hal itu mendorong harga minyak menjadi negatif. Saat itu harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi patokan minyak AS, turun hingga minus US$ 37,63 per barel.

