Beberkan Kondisi Ekonomi RI ke Prabowo, Purbaya: Analisis di TikTok Tak Pernah Lihat Data
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan kondisi ekonomi Indonesia saat sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026). Dalam sidang yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto itu, Purbaya menekankan kondisi ekonomi Indonesia sangat kuat. Purbaya pun menyinggung analisis dan ekonom di media sosial yang menyebut ekonomi Indonesia hancur sebagai pihak yang tidak pernah melihat data.
"Jadi kita enggak usah takut Pak. Jadi yang analis-analis yang di TikTok, di YouTube yang bilang kita hancur, itu sama sekali enggak pernah ngelihat data Pak," kata Purbaya.
Baca Juga
Rupiah Terdepresiasi 0,3% Sejak Kecamuk di Teluk Persia, Purbaya Sebut Masih Moderat
Purbaya membeberkan, purchasing manager index (PMI) pada Februari 2026 berada di level 53,8. Angka itu merupakan yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
"Jadi betul-betul ada perbaikan yang kuat di sektor manufaktur. Artinya sisi suplai tumbuh dengan kuat. Jadi ini bukan data dari BPS, tetapi data dari pihak lain yang mengonfirmasi bahwa ekonomi kita memang sedang tumbuh," katanya.
Purbaya juga membantah anggapan ekonomi Indonesia mengalami kepanasan karena inflasi pada Februari mencapai 4,64% (YoY). Menurutnya, angka inflasi itu tidak akurat karena terdapat subsidi listrik pada Januari-Februari 2025.
"Kalau kita hilangkan data-data subsidi listrik bulan Januari-Februari tahun lalu, sebetulnya inflasi kita hanya sekitar 2,59% Pak. Jadi kita masih aman untuk tumbuh lebih cepat lagi, ekonominya enggak kepanasan. Jadi yang lain-lain enggak usah memperlambat pertumbuhan ekonomi," paparnya.
Purbaya menyatakan, ekonom yang menyebut ekonomi Indonesia sudah resesi dan menuju kehancuran merupakan pemikiran yang aneh. Hal ini lantaran berbagai data menunjukkan ekonomi Indonesia sangat kuat. Dikatakan, indeks belanja masyarakat atau mandiri spending index (MSI) kini berada di level 360,7 dengan tren yang terus meningkat. Indikator tersebut dinilai mencerminkan percepatan konsumsi rumah tangga.
Purbaya juga mencontohkan industri otomotif. Dikatakan, pada Februari 2026, penjualan mobil tumbuh 12,2% secara tahunan.
"Ini bukan main-main kalau lihat tahun lalu kan negatif tuh Pak. Sekarang udah mulai positif dan sekarang makin kencang. Jadi kita jauh dari apa yang disebut ekonominya morat-marit kata ekonom-ekonom di luar itu Pak, di TikTok banyak yang ngomong gitu," katanya.
Demikian juga di sektor ritel. Purbaya mengatakan penjualan ritel tercatat tumbuh sekitar 6,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Jadi, kita dalam keadaan bagus sekali sekarang. Jadi kebijakan Bapak betul-betul bisa membangkitkan ekonomi," katanya.
Purbaya menyatakan tingkat keyakinan konsumen yang berada pada level tinggi, yakni sekitar 125,2 menunjukkan membaiknya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan kemampuan belanja.
"Banyak orang bilang katanya daya beli masyarakat terpukul. Ya, ya kalau yang lagi susah ya susah tetap, tetapi kan kita melihat keadaan umum. Keadaan umum ditangkap dari survei kepercayaan konsumen. Jadi memang daya beli masyarakat membaik," paparnya.
Baca Juga
Menkeu Purbaya: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 Diprediksi 5,5%–6%
Purbaya mengakui geopolitik membuat rupiah terkoreksi. Namun, ketika perang terjadi, rupiah hanya terdepresiasi sebesar 0,3%.
"Jadi sebetulnya bagus daya tahan kita. Yang real yang pemain yang punya duit betul bilangnya seperti ini," katanya.

