Komisi XI DPR Minta Masyarakat Tak Panik Hadapi Harga Minyak Mentah Dunia yang Melambung
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun meminta masyarakat tidak panik menghadapi lonjakan harga minyak mentah dunia. Pemerintah pasti telah menyiapkan skenario untuk menghadapi harga minyak mentah yang melambung tinggi.
Harga minyak mentah dunia sudah di atas patokan harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) yang dalam asumsi makro APBN 2026 ditetapkan US$ 70 per barel. Harga minyak mentah bahkan sempat menembus US$ 120 per barel akibat perang yang dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran. Saat ini, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent masing-masing berada di level US$ 86 dan US$ 90 per barel.
“Saya ingin meyakinkan Masyarakat bahwa pemerintah telah menyiapkan semua skenario,” kata Misbakhun di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Baca Juga
Sempat Tembus US$ 120, Harga Minyak Anjlok Setelah Trump Pertimbangkan Ambil Alih Selat Hormuz
Misbakhun menjelaskan, pemerintah telah berkomitmen akan selalu menjaga suplai pangan dan energi. Seperti yang sudah disampaikan Presiden Prabowo Subianto, persediaan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia dalam kondisi yang cukup dan aman.
“Jadi, tidak perlu ada kepanikan-kepanikan. Perangnya jauh dari wilayah Indonesia,” ujar dia.
Menurut senator asal Partai Golkar tersebut, yang diperlukan pemerintah saat ini yaitu antisipasi. Sebab, Indonesia tak berhadapan langsung dengan situasi perang.
Antisipasi, kata dia, tak hanya menyasar minyak mentah. Pemerintah juga perlu mengukur persediaan gas karena berhubungan dengan ketersediaan pupuk untuk petani guna menjaga stok dan pasokan pangan.
“Kalau pemerintah sudah menyiapkan (skenario) ketika harga minyak tinggi, kemudian pada saat yang sama sehari kemudian jatuh, tentunya kita harus wait and see. Harus menunggu, tidak boleh reaktif,” tegas dia.
Misbakhun menambahkan, pemerintah bersikap demikian untuk memastikan kebijakan yang tepat. Sebab, kebijakan yang diambil pemerintah harus memberikan kepastian kepada pasar. “Pasar membutuhkan guidance terhadap kebijakan-kebijakan yang konsisten memberikan penguatan,” ujar dia.
Baca Juga
Wakil Ketua MPR Waswas Harga Minyak Tembus US$ 100 per Barel Imbas Ketegangan Timur Tengah
Sebelumnya diberitakan, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pemerintah telah melakukan perhitungan dengan harga minyak menyentuh US$ 92 per barel rata-rata selama setahun dan dampaknya terhadap defisit APBN.
“Kita naik (defisit) ke 3,7% dari PDB (produk domestik bruto). Itu kalau kita nggak ngapa-ngapain,” tutur Purbaya.
Meski begitu, Purbaya mengakui, kenaikan harga minyak dunia hingga US$ 150-200 per barel seperti terjadi beberapa tahun silam turut berdampak terhadap perekonomian nasional. Saat itu, ekonomi melambat.
“Tapi nggak jatuh. Jadi, kita punya pengalaman. Kalau emang anggarannya nggak kuat sekali,” ucap dia.

