Jika Harga Minyak Tembus US$ 117, Subsidi BBM dan Program Strategis Pemerintah Terancam Defisit
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -- Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai nilai tukar Rupiah yang menyentuh angka Rp17.000 per dolar AS dan anjloknya IHSG hingga 5% pada perdagangan Senin (9/3/2026) menjadi sinyal waspada bagi ketahanan fiskal Indonesia. Lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini bertengger di level US$ 117 per barel diprediksi akan memicu defisit anggaran hingga 3,6%.
Ibrahim mengungkapkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah menyusul suksesi kepemimpinan di Iran menjadi motor utama kekacauan harga energi global. Terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru Iran meningkatkan kekhawatiran akan penutupan Selat Hormuz.
"Di Selat Hormuz terdapat kilang-kilang Uni Emirat Arab, Irak, hingga Arab Saudi. Mereka mulai mengurangi produksi, dan inilah yang membuat harga minyak mentah, baik crude maupun brent, melonjak tinggi ke level US$ 117," kata Ibrahim kepada wartawan, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, jika krisis di Timur Tengah tidak menemukan titik temu dalam satu bulan ke depan, harga minyak dunia berpotensi meroket hingga US$ 200 per barel. Kondisi ini jauh melampaui batas aman asumsi makro pemerintah.
Baca Juga
Ancaman Naiknya Harga Minyak Imbas Perang, Kadin Khawatir Defisit APBN Makin Lebar
Kenaikan harga minyak yang tak terkendali ini berdampak langsung pada postur APBN Indonesia. Meski pemerintah sempat menyatakan stok BBM aman untuk 20 hari ke depan dengan asumsi harga normal di level US$ 92, kenyataan di pasar global saat ini sudah jauh melampaui angka tersebut.
"Artinya apa? Pemerintah kemungkinan besar akan mengalami defisit anggaran hingga 3,6%. Ini juga sudah diinformasikan oleh Menteri Purbaya," tutur Ibrahim.
Menurutnya implikasi dari melebarnya defisit ini adalah potensi rasionalisasi atau pengurangan anggaran pada program-program besar pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ketegangan internal ini muncul karena pemerintah harus membagi prioritas antara menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri atau menjalankan program strategis yang telah direncanakan.

