Ancaman Naiknya Harga Minyak Imbas Perang, Kadin Khawatir Defisit APBN Makin Lebar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyoroti gejolak yang terjadi di Timur Tengah akibat adanya perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Ia mengatakan, gejolak akibat yang terjadi dapat memberikan efek domino terhadap perekonomian dalam negeri.
Anindya mengatakan, salah satu sektor yang akan terdampak dari adanya perang di Timur Tengah adalah sektor energi. Ia mengkhawatirkan defisit APBN semakin melebar akibat ancaman kenaikan harga minyak dunia yang melambung semakin tinggi. Bahkan ia memperkirakan lonjakan kenaikan harga minyak dapat membuat defisit fiskal melebar hingga 50%.
"Kami melihat bahwa kalau terus minyak bisa tinggi apalagi menembus 100 dolar (per barel), itu tentu merupakan tekanan yang luar biasa bagi APBN kita. Pada saat ini APBN kita di 600 triliun kurang lebih defisitnya yang dianggarkan, tentu angkanya bisa naik sampai 40-50 persen," ungkapnya saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Rapimprov II DKI Jakarta di Park Hyatt, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Ia melanjutkan, guna mengantisipasi semakin jebolnya defisit APBN, pemerintah perlu melakukan langkah strategis sebagai upaya mitigasi dalam waktu dekat.
"Kita wajib untuk memikirkan apa nih gerakan-gerakan yang kita bisa lakukan," lanjutnya.
Selain sektor energi, hal lain yang disorot oleh Kadin adalah bagaimana pemerintah dapat memastikan ketahanan pangan hingga terciptanya kestabilan nasional. Dalam kesempatan tersebut, Anindya memuji rencana Kadin DKI Jakarta yang akan berkontribusi menjalankan program pasar murah.
"Tadi Ketum (Kadin) DKI Jakarta mengatakan ikut membantu untuk Pasar Murah, saya rasa sangat penting untuk menekan inflasi. Karena keliatannya inflasi akan sedikit-sedikit mulai merangkak. Jadi bersama-sama kita di DKI, Kadin Indonesia bekerjasama dengan pemerintah untuk memastikan bahwa inflasi ini terjaga. Apalagi memasuki periode lebaran," ungkapnya.
Baca Juga
Bos Kadin 'Curhat' ke Gubernur DKI, Minta Afirmasi Bagi Pengusaha Lokal
Di kesempatan terpisah, pemerintah menyiapkan skenario terburuk untuk menjaga stabilitas anggaran negara setelah harga minyak dunia melonjak akibat konflik di Iran. Adapun harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$ 83,49 per barel pada Kamis (5/3/2026), memicu kekhawatiran dampaknya pada defisit APBN.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah telah melakukan simulasi jika harga minyak mentah rata-rata mencapai US$ 92 per barel sepanjang tahun. Dalam kondisi tersebut, defisit APBN berpotensi meningkat signifikan apabila tidak ada kebijakan penyesuaian.
“Kita naik (defisit) ke 3,7% dari PDB (produk domestik bruto). Itu kalau kita enggak ngapa-ngapain,” kata Purbaya di kantornya di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Purbaya menilai Indonesia memiliki pengalaman menghadapi lonjakan harga minyak yang jauh lebih tinggi pada masa lalu. Ia merujuk pada periode ketika harga minyak dunia sempat mencapai kisaran US$ 150 hingga US$ 200 per barel. “Namun, enggak jatuh. Jadi kita punya pengalaman. Kalau emang anggarannya enggak kuat sekali,” ujar dia.

