Airlangga Buka Suara soal Molornya Kesepakatan Perjanjian Tarif dengan AS
Poin Penting
|
BOGOR, investortrust.id - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, buka suara perihalnya molornya kesepakatan atau negosiasi tarif dagang dengan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Negosiasi dengan AS telah rampung sepenuhnya pada tahap pembicaraan dan tinggal menunggu penandatanganan.
"Negosiasi dengan Amerika seluruh pembicaraan sebetulnya sudah selesai. Tinggal fine tuning di legal drafting. Berikutnya tinggal menunggu jadwal yang akan ditentukan, jadwal bersama antara Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump," kata Airlangga saat ditemui di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).
Namun Airlangga belum dapat membocorkan besaran tarif yang disepakati kedua negara. Ia memastikan akan diumumkan secepatnya setelah dokumen resmi telah ditandatangani. "Nanti belum, karena kita masih ada non-disclosure agreement. Baru di-disclosese jika sudah ditandatangani," ujarnya.
Airlangga berdalih, mundurnya penandatanganan tarif tersebut, salah satunya adalah pembentukan Board of Peace yang dibesut oleh Presiden AS Donald Trump.
Baca Juga
Ketua MPR Klaim Kesepakatan Tarif Dagang Prabowo-Trump Untungkan RI
"Ya karena ini kan kemarin dinamika, kemarin ada penandatanganan Board of Peace dan sebagainya. Ini kan menggeser berbagai kegiatan. Namun, kan kita lihat saja Board of Peace Pak Presiden juga tanda tangan," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Airlangga membantah bergabungnya Indonesia dengan organisasi Board of Peace, sebagai salah satu bagian dari kesepakatan tarif dagang dengan AS.
"Enggak, tetapi kan biar bagaimana prioritas-prioritas yang ada tentu terkait agenda-agenda yang ditandatangani. Kemarin waktu di Davos memang semua bicaranya masalah, ya perdamaian lah. Dan juga terhadap perang yang ada, baik itu Ukraine maupun Gaza," ungkapnya.
Sebelumnya Airlangga Hartarto dalam kesempayan terpisah, menegaskan Indonesia tidak khawatir atas ancaman Presiden Donald Trump yang akan mengenakan tarif 25% terhadap negara yang berbisnis dengan Iran. Menurut Airlangga, nilai transaksi perdagangan Indonesia dengan Iran relatif kecil.
“Tidak ada (kekhawatiran),” ujar Menko Airlangga singkat saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Airlangga menjelaskan bahwa transaksi perdagangan Indonesia dengan Iran tidak signifikan dibandingkan mitra dagang utama lainnya. “Kita transaksinya tidak besar,” katanya.
Baca Juga
AS dan China Saling Balas Tarif Dagang, Kadin Respons Begini
Nilai perdagangan Indonesia-Iran hanya berada di kisaran ratusan juta dolar AS per tahun. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan perdagangan Indonesia-AS yang telah mencapai puluhan miliar dolar AS per tahun.
Data Kementerian Perdagangan mencatat total perdagangan Indonesia-Iran sekitar US$ 206,9 juta, dengan ekspor sebesar US$ 195,1 juta dan impor US$ 11,7 juta. Dalam lima tahun terakhir, tren perdagangan kedua negara juga cenderung menurun.

