AS dan China Saling Balas Tarif Dagang, Kadin Respons Begini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, memberikan respons terkait memanasnya drama perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan China belakangan ini. Meski Indonesia telah menyepakati tarif dagang dengan AS, ia menyebut pengusaha lokal masih terus memantai perkembangan implementasinya.
"Tarif ini tentu kita sudah sepakati secara umum dengan Amerika. Kita lihat pekembangannya bagaimana implementasinya," kata dia saat ditemui usai agenda Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Sabtu (11/10/2025).
Selain memonitor terkait situasi yang terjadi di AS, Anindya juga mendorong agar pengusaha lokal, khususnya para eksportis, mulai membuka peluang mencari pasar alternatif. Ia mencontohkan, dua pasar tujuan ekspor yang berpotensi bagi pengusaha asal Indonesia ke depannya adalah Uni Eropa dan Kanada.
"Karena kebetulan apa yang kita transfer atau kita kirim itu juga sama," ujarnya.
Anindya mengatakan, perkembangan situasi di AS menjadi sangat dinamis ke depannya. Tidak hanya terkait adanya drama perang tarif dengan China, isu lain yang berkembang di AS adalah adanya goverment shutdown hingga solusi perdamaian Gaza.
Baca Juga
Ketum Kadin Dorong Kolaborasi Lebih Erat antara Pemerintah dan Swasta untuk Perkuat Daya Saing
CEO PT Bakrie & Brothers Tbk itu mengakui belum menerima adanya aduan dari para pengusaha terkait dampak dari perang tarif antara AS dan China. Ia mengimbau agar para pengusaha bersiap dengan segala dinamika global yang terjadi.
Ia mengatakan, tidak jarang terjadi dinamika di AS yang kemudian berpengaruh terhadap politik dan ekonomi global.
"Itu juga alasannya kenapa kita fokus ke negara kayak di Eropa. Karena market size-nya juga $21 triliun, tapi mungkin selagi ratifikasi mereka lebih konsisten," jelas Anindya.
Diberitakan Presiden Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat akan memberlakukan tarif baru sebesar 100% terhadap impor dari China “di atas tarif yang sudah dibayarkan,” mulai 1 November.
Trump juga mengatakan bahwa pada tanggal yang sama, AS akan memberlakukan kontrol ekspor terhadap “semua perangkat lunak penting.”
Pengumuman presiden tersebut muncul beberapa jam setelah ia mengancam akan memberlakukan “kenaikan besar-besaran” tarif terhadap impor China sebagai balasan atas kontrol baru yang diberlakukan China terhadap ekspor mineral logam tanah jarang dari negara tersebut.
Sekitar 70% pasokan global mineral logam tanah jarang berasal dari China. Mineral ini sangat penting bagi industri berteknologi tinggi, termasuk otomotif, pertahanan, dan semikonduktor.
Trump sebelumnya pada hari Jumat juga mengisyaratkan akan membatalkan pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping pada KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) yang akan datang di Korea Selatan karena kontrol baru China tersebut.
Hampir setiap produk yang diimpor ke AS dari China sudah dikenakan tarif tinggi. Meskipun terdapat berbagai tingkat bea khusus pada impor — mulai dari 50% untuk baja dan aluminium hingga 7,5% untuk barang konsumsi — tarif efektif untuk impor China saat ini sekitar 40%, menurut analisis Wells Fargo Economics dan Federal Reserve Bank of New York, seperti dikutip CNBC.

