Kadin Sebut Kelas Menengah Bawah Jadi Tantangan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai kelompok kelas menengah bawah menjadi tantangan utama dalam menjaga dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini disebabkan kontribusi konsumsi kelompok tersebut terhadap produk domestik bruto (PDB) relatif kecil, meskipun jumlah penduduknya sangat besar.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Aviliani menjelaskan, sektor swasta memegang peranan dominan dalam struktur PDB Indonesia, terutama melalui investasi dan konsumsi. Menurutnya, kontribusi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terhadap PDB justru relatif kecil.
Baca Juga
Mendag Klaim Kelas Menengah Sudah Mulai 'Gacor' Belanja, Ini Buktinya
“APBN yang selama ini sering diperdebatkan, kontribusinya hanya sekitar 8,7%. Sementara itu, investasi menyumbang sekitar 30% dari PDB dan konsumsi mencapai 57%,” ujar Aviliani dalam acara Kadin: Global & Domestic Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Dia menerangkan, komposisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5% sangat ditopang sektor swasta dan konsumsi masyarakat. Bahkan, tanpa dorongan besar dari pemerintah sekali pun, pertumbuhan tersebut tetap dapat tercapai berkat aktivitas ekonomi swasta.
Kendati demikian, Aviliani menekankan persoalan kesenjangan dalam struktur konsumsi. Pada pertumbuhan ekonomi 5%, kontribusi terbesar masih berasal dari kelompok kelas atas dan menengah atas yang menyumbang sekitar 70% dari total konsumsi dalam PDB. “Sementara yang sedang bermasalah adalah kelas menengah bawah. Pendapatan mereka mengalami penurunan dan kontribusinya hanya sekitar 17%, padahal jumlahnya mencapai 75 juta orang,” jelasnya.
Kondisi tersebut, lanjut Aviliani, menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama, khususnya bagi sektor swasta dan anggota Kadin. Dia menilai dunia usaha memiliki peran strategis dalam membantu pemerintah menciptakan lapangan kerja agar kelompok menengah bawah dapat meningkatkan daya beli dan naik kelas. “Bagaimana kita membantu penyerapan tenaga kerja agar 75 juta orang dengan kontribusi 17% ini bisa naik kelas dan ikut masuk ke kelompok yang kontribusinya 70%,” tegas Aviliani.
Baca Juga
Daya Beli Melemah dan Kelas Menengah Menyusut Tekan Penjualan Mobil Nasional
Di sisi lain, kelompok masyarakat bawah yang berjumlah sekitar 25 juta orang dan masih menerima bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah dinilai tidak terlalu bermasalah dari sisi kontribusi ekonomi. Kelompok ini menyumbang sekitar 13% terhadap konsumsi PDB. “Jadi yang sebenarnya menjadi tantangan utama adalah kelompok 17% tadi. Ini PR yang memang harus mulai menjadi perhatian serius,” ucap Aviliani.

