Tarif Tinggi Trump Diprediksi Berkepanjangan, Hambat Pemulihan Perdagangan Global 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Tim ekonom PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melihat bahwa pemulihan perdagangan global masih rapuh, dengan pertumbuhan volume perdagangan yang termoderasi, pasca-penerapan kebijakan tarif resiprokal Trump.
Chief Economist Bank BRI Anton Hendranata menuliskan, tekanan rantai pasok yang kembali meningkat, terlihat dari kenaikan Global Supply Chain Pressure Index (GSCPI) secara tahunan. Indeks menyentuh posisi -1,58 pada kuartal II-2023 dan -0,06 pada kuartal VI-2025.
“Hal ini menambah hambatan bagi pulihnya arus perdagangan dunia,” tulis tim ekonom BRI dalam laporan Global Economic Outlook yang dipublikasi pada Januari 2026.
Kemudian risiko tambahan muncul dari kebijakan tarif Trump 2.0, mengingat pada periode Trump 1.0 volume perdagangan global sempat turun setelah dua tahun menjabat.
“Pola historis tersebut menunjukkan bahwa ketidakpastian kebijakan perdagangan dapat kembali menahan momentum pemulihan perdagangan global pada 2025 dan 2026 mendatang,” simpul Anton yang dikutip pada Selasa (13/1/2026).
Ketidakpastian perdagangan global pun kembali meningkat, setelah rencana penerapan tarif Trump 2.0. Hal ini tercermin dari lonjakan World Trade Uncertainty Index yang yang menunjukkan angka 10,7 pada Mei 2025 dan 2,5 pada September 2025 sebagai periode Trump 2.0.
Baca Juga
Trump 2.0 Diprediksi Naikkan Volatilitas Pasar Saham dan Obligasi, Sementara Mata Uang Asia Melemah
Sementara dalam tiga dekade terakhir, rata-rata tarif efektif AS naik signifikan pada periode Trump 2.0. Kenaikan tarif ini memperbesar risiko friksi perdagangan dan berpotensi menahan arus perdagangan internasional dalam jangka pendek sampai menengah.
Dampak kebijakan tarif tersebut diperkirakan menekan pertumbuhan ekonomi global hingga -0,65 ppt dalam setahun, terutama melalui pelemahan perdagangan dan kenaikan biaya impor.
Pada saat yang sama, inflasi global berpotensi naik sekitar 0,38 ppt, menandakan bahwa langkah proteksionis AS dapat kembali mendorong kenaikan harga, sekaligus melemahkan momentum pemulihan ekonomi dunia.
BRI memproyeksi, ancaman tarif AS di bawah Trump masih berlanjut. Hal ini dibuktikan oleh beberapa negara yang berisiko mendapatkan tarif tambahan ke depan, terutama China dan Uni Eropa. Mereka masing-masing berpotensi dikenakan tarif tambahan sebesar 200% dan 50%.
Selain itu, tarif Trump juga menyasar pada beberapa barang atau komoditas tertentu. Saat ini, impor AS terhadap Alumunium dan Baja telah dikenai tarif yang cukup tinggi sebesar 50%.
Ke depan, masih terdapat beberapa barang esensial yang mendapatkan ancaman tarif Trump, yaitu produk farmasi, semikonduktor, minyak dan gas, serta produk agrikultur.
“Pengalaman Trump 1.0 menunjukkan bahwa tarif yang tinggi cenderung bersifat persisten, bukan sementara. Alhasil eskalasi tarif yang dilakukan Trump 2.0 saat ini lebih agresif dan kemungkinan dapat berkepanjangan, berisiko menghambat perdagangan global,” tutup Anton.

