Trump 2.0 Diprediksi Naikkan Volatilitas Pasar Saham dan Obligasi, Sementara Mata Uang Asia Melemah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Tim ekonom PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memprediksi efek Trump 2.0 akan meningkatkan volatilitas pasar saham berisiko, pasar obligasi global, dan menaikkan imbal hasil (yield) US Treasury (UST).
Berdasarkan data historis Trump 1.0, tren nilai tukar Dolar AS dan Indeks Dow Jones juga akan cenderung menguat, sedangkan nilai tukar mata uang Asia dapat melemah.
Dari pengalaman Trump 1.0, laporan Global Economic Outlook 2026 BRI menunjukkan, kebijakan tarif Trump 2.0 akan meningkatkan volatilitas pasar saham berisiko ke depan, seiring berlanjutnya ketidakpastian.
Pada Trump 1.0, volatilitas pasar saham tecermin oleh indeks yang menunjukkan angka 91,0, setelah Trump menjabat 12 bulan. Volatilitas kemudian meningkat jadi 212,0 pada akhir tahun kedua.
Sementara di periode Trump 2.0, indeks yang sama telah menunjukkan angka 92,1 pada bulan ke-12 Trump memimpin untuk kedua kalinya. Level ini sedikit lebih tinggi dibandingkan potongan waktu yang sama pada Trump 1.0 sehingga menunjukkan pola yang hampir sama.
Di sisi lain, volatilitas pasar obligasi global diproyeksi naik pada periode Trump 2.0, termasuk tahun 2026. Berkaca pada Trump 1.0, tingkat volatilitas pasar obligasi global berada di titik 64,3 pada bulan ke-12 kepemimpinan Trump dan naik menjadi 91,8 pada akhir tahun kedua.
Selanjutnya pada akhir tahun pertama masa Trump 2.0, tingkat volatilitas pasar obligasi global menjadi 69,7, lebih tinggi tetapi mendarat di titik yang hampir sama dengan Trump 1.0.
Namun pada Trump 2.0, volatilitas pasar obligasi global di bulan ke-4 naik tinggi melampaui indeks 120,0, berbeda dengan periode sama di Trump 1.0 di kisaran 80,0.
Baca Juga
Membuka Tahun dengan Melemah, Rupiah dalam Ancaman Volatilitas Ekonomi Global
“Berkaca dari periode Trump 1.0, tren volatilitas pasar obligasi global berpotensi naik, walaupun kenaikannya tidak signifikan,” ungkap riset yang dipimpin Chief Economist BRI Anton Hendranata itu.
Selanjutnya tren Dolar AS ke depan diperkirakan menguat namun terbatas, seiring penurunan suku bunga The Fed (Fed Fund Rate/FFR). Pada Trump 1.0 indeks dolar menempati level 92,6 di akhir tahun pertama dan 96,6 di akhir tahun kedua. Sedangkan pada Trump 2.0, indeks Dolar AS naik ke level 91,6 di bulan ke-12 kepemimpinan Trump yang kedua kali.
Seiring tren penguatan Dolar AS, nilai tukar mata uang Asia diperkirakan melemah terbatas pada Trump 2.0. Indeks Dolar Asia terhadap Dolar AS telah menunjukkan tingkat 106,2 pada akhir tahun pertama Trump 1.0 dan turun ke 101,4 pada akhir tahun kedua.
Sementara dalam Trump 2.0, indeks Dolar Asia terhadap Dolar AS sudah turun lebih rendah dibandingkan Trump 1.0, yakni di level 102,7 pada bulan ke-12 kepemimpinan keduanya.
Selanjutnya indeks saham Dow Jones diperkirakan menguat tahun ini, sebagai bagian dari periode Trump 2.0. Berdasarkan pola Trump 1.0, Indeks Dow Jones cenderung menguat hingga pertengahan tahun kedua jabatan Trump yang pertama.
Indeks menunjukkan penguatan pada level 124,2 pada bulan ke-12 kemudian turun ke 117,4 pada akhir tahun kedua. Namun berdasarkan historis Trump 2.0 sampai akhir tahun pertama Trump kembali menjabat, indeks ini baru menguat ke tingkat 107,9.
Laporan Economic Outlook 2026 yang dipublikasi pada Januari itu juga memperkirakan tren yield UST 10 tahun naik di tengah meningkatnya volatilitas.
Hingga akhir tahun pertama Trump 2.0. penguatan menunjukkan angka 91,8. Sedangkan di Trump 1.0 kenaikan yield UST 10 tahun parkir di titik 98,0 pada bulan ke-12 kepemimpinan Trump dan menjadi 109,4 pada bulan ke-24.

