Dolar Menguat di Asia, Rupiah Kembali Tertekan Kamis Pagi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (4/12/2025) pagi seiring penguatan dolar di berbagai mata uang global, menandai tekanan berlanjut menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Pelemahan ini menunjukkan semakin kuatnya posisi dolar di pasar keuangan internasional dan meningkatkan tekanan pasar terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve (the Fed) menjadi fokus utama investor setelah sejumlah data ekonomi terbaru memicu ekspektasi pemangkasan suku bunga. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama berada di level 99, sehingga menopang apresiasi dolar dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga
Rupiah pagi ini di posisi Rp 16.643 per dolar AS atau melemah 15 poin atau 0,09%. Dolar AS menguat secara luas dan menekan euro Uni Eropa serta poundsterling Britania Raya, yang masing-masing terdepresiasi 0,12% dan 0,16%. Pelemahan serupa terjadi pada yuan China yang melemah 0,08% terhadap dolar AS.
Penguatan dolar juga terlihat di pasar Asia. Dolar AS menguat terhadap baht Thailand sebesar 0,2%, dolar Singapura 0,19%, dan peso Filipina 0,39%. Sementara rupee India melemah 0,36% dan yen Jepang melemah 0,15%. Ringgit Malaysia turut tertekan 0,11% seiring penguatan dolar yang berkelanjutan.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyampaikan bahwa penguatan dolar AS terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada pekan depan. Pasar merespons data payroll sektor swasta Amerika Serikat yang turun 32.000 sehingga memperkuat sentimen dovish.
“Ini mendorong peluang pemangkasan suku bunga The Fed menjadi hampir pasti. Dalam perdagangan setelah jam bursa, investor menunggu laporan laba dari Dollar General, DocuSign, HP, dan beberapa perusahaan lain,” kata Andry.
Baca Juga
Andry menambahkan bahwa pasar masih mencermati sinyal kuat terkait pergantian posisi Ketua the Fed Jerome Powell ke penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hasset. Sentimen tersebut memperkuat proyeksi pelonggaran kebijakan moneter.
“Selain itu, awal Desember secara resmi menandai berakhirnya program pengetatan kuantitatif The Fed, namun primary dealers memberikan sinyal ekspektasi bahwa the Fed mungkin akan meningkatkan pembelian surat utang jangka pendek,” ujarnya.

