BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2025 ada di Kisaran 4,7%-5,5%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mengoreksi ke atas kisaran pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025. Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober 2025, BI menyebut pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun 2025 berada di atas titik tengah kisaran 4,6% hingga 5,4%.
“Pertumbuhan ekonomi tahun 2025 diperkirakan berada dalam kisaran 4,7% hingga 5,5% dan akan meningkat pada 2026,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo saat paparan hasil RDG BI November 2025, Rabu (19/11/2025).
Perry menjelaskan pada kuartal IV-2025, pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat didukung stimulus fiskal melalui implementasi proyek prioritas dan paket kebijakan ekonomi pemerintah 2025 serta bauran kebijakan BI. Berbagai kebijakan itu mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas.
Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh lebih tinggi didorong kenaikan ekspektasi penghasilan, khususnya pada kelompok menengah ke bawah. Kenaikan ini sejalan tambahan bantuan sosial pemerintah serta kenaikan mobilitas dan aktivitas masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
“Investasi, khususnya nonbangunan, diprakirakan lebih tinggi tecermin dari indeks Prompt Manufacturing Index (PMI) yang tetap pada level ekspansif,” kata dia.
Baca Juga
Ketidakpastian Global Masih Tinggi, BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Dunia 3,1% pada 2026
Pada 2026 mendatang, BI melihat tidak banyak yang berubah dari kondisi global. Kondisi global masih akan diwarnai dampak dari tarif AS.
“Kemarin sudah ada beberapa perbaikan, tetapi juga masih ada kondisi-kondisi yang belum terpecahkan dengan tarif ini,” ujar Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman.
Aida menjelaskan ketidakpastian global mendatang semakin tinggi karena adanya government shutdown yang berlangsung sejak awal Oktober 2025. Tetapi, efek tarif AS yang diwaspadai yaitu pertumbuhan ekonomi global yang lebih rendah dan fragmentasi.
“Di samping tingginya utang pemerintah (AS) yang akan mengakibatkan yield tetap tinggi dan tentunya mengakibatkan investasi tetap ke emas dan safe haven lainnya,” kata dia.
Sementara itu, di dalam negeri, BI optimistis pertumbuhan ekonomi 2026 akan lebih tinggi dibandingkan 2025. Meski tak menyebut angka, Aida mengatakan permintaan dalam negeri akan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan.
“Karena tadi, eksternal sektornya tidak banyak yang kita harapkan,” ujar dia.
Dari sisi fiskal, Aida berharap pemerintah mempercepat belanja. Ini akan mendorong konsumsi swasta dan menarik investasi masuk ke dalam negeri.
“Termasuk juga nanti sumbangan dari hilirisasi ekspor kita,” ucap dia.

