Dikepung "Hantu" Undisbursed Loan, BI Perkirakan Pertumbuhan Kredit di Kisaran 8% pada 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan kredit berada di batas bawah kisaran 8% hingga 11% pada 2025. BI memprediksi pertumbuhan kredit tersebut bakal naik pada 2026.
“Pertumbuhan kredit perbankan perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo, saat RDG Oktober, Rabu (22/10/2025).
Perry menjelaskan sinergitas dengan kebijakan fiskal akan terus dilakukan untuk mendorong permintaan kredit agar undisbursed loan bisa digunakan.
Berdasarkan paparannya, kredit perbankan pada September 2025 masih tercatat 7,7% secara tahunan. Angka ini meningkat dari angka kredit perbankan yang sebesar 7,56% pada Agustus 2025.
“Permintaan kredit belum kuat dipengaruhi oleh sikap pelaku usaha yang masih wait and see, optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi, dan suku bunga kredit yang masih relatif tinggi,” kata dia.
Baca Juga
Tumbuh 7,56%, OJK Catat Kredit Perbankan per Agustus 2025 Capai Rp Rp 8.075 Triliun
Perkembangan ini tecermin dari fasilitas pinjaman yang belum dicairkan atau undisbursed loan pada September 2025 yang masih cukup besar, yaitu mencapai Rp 2.374,8 triliun atau 22,54% dari plafon kredit yang tersedia, teruma pada segmen korporasi dengan kontribusi utama dari sektor perdagangan, industri, dan pertambangan, serta kredit modal kerja.
Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan penurunan BI Rate sebesar 150 basis poin (bps) sejak September 2024 memang membuat pasar uang mengalami transmisi.
“Yang paling rendah penurunannya itu 132 bps. Jadi, kalau di INDONIA turun 204 bps, SRBI 12 bulan sudah turun 257 bps sehingga angka sekarang menjadi 4,7%. Imbal hasil SBN 2 tahun (turun) 218 bps, dan yang terendah adalah SBN 10 tahun (turun) 132 bps,” kata Aida.
Meski begitu, suku bunga deposito di DPK baru turun sebesar 29 bps dan kredit baru turun 15 bps. Jadi inilah yang ingin dilakukan BI dengan insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dengan forward looking.
“Dan kemudian juga ditambah dengan interest rate channel sehingga diharapkan kita bisa terus meningkatkan pertumbuhan kredit,” ujar dia.

