Ketidakpastian Global Masih Tinggi, BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Dunia 3,1% pada 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bank Indonesia (BI) menilai ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi, seiring dinamika ekonomi Amerika Serikat (AS) dan perubahan kebijakan moneter global. Gubernur BI Perry Warjiyo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 berada di level 3,1% secara tahunan.
Perry menjelaskan ketidakpastian global kembali meningkat akibat temporary government shutdown di AS dan arah kebijakan suku bunga The Fed yang masih tinggi. “Ketidakpastian pada pasar keuangan global kembali meningkat di tengah terjadinya temporary government shutdown di tengah suku bunga kebijakan moneter AS,” ujar Perry dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI November 2025, Rabu (19/11/2025).
Baca Juga
Ia menambahkan, perekonomian AS melambat karena berlanjutnya tarif dagang dan terhentinya aktivitas pemerintahan terlama dalam sejarah. Kondisi tersebut membuat pasar tenaga kerja AS melemah.
Perlambatan ekonomi juga terjadi di China, Jepang, dan India karena permintaan domestik belum kuat. Sebaliknya, ekonomi Eropa tumbuh lebih tinggi dari perkiraan, didorong pemulihan konsumsi rumah tangga dan investasi pada kuartal III-2025 di tengah pelonggaran kebijakan moneter.
“Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi dunia 2025 diperkirakan tetap sekitar 3,1%, lebih rendah dari realisasi pada tahun 2024,” katanya.
BI mencatat pasar keuangan global kembali bergerak fluktuatif akibat penurunan suku bunga The Fed yang lebih berhati-hati. Tarif impor yang menahan inflasi AS, serta lemahnya pasar tenaga kerja di tengah kebijakan imigrasi dan dampak government shutdown, mendorong The Fed menahan suku bunga hingga akhir 2025.
Baca Juga
Bunga Tinggi Bikin Pasar Mobil Seret, Pembiayaan Jadi Penentu Pertumbuhan Otomotif
“Aliran modal global ke komoditas emas dan aset keuangan AS sebagai safe haven asset terus berlanjut sehingga mendorong peningkatan harga emas dan penguatan indeks mata uang dolar AS, DXY,” ujar Perry.
Sementara itu, aliran modal ke negara berkembang lebih terbatas dan cenderung masuk ke pasar saham. Kondisi ini menuntut kewaspadaan dan respons kebijakan yang kuat guna menjaga ketahanan eksternal serta mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

