Bonus Demografi Jadi Modal Kuat, Core Indonesia Ingatkan Ancaman Pengangguran Muda
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf R Manilet mengungkapkan, Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk melompat menjadi negara berpendapatan tinggi melalui bonus demografi. Namun, ancaman tingginya pengangguran muda harus segera ditangani sebelum peluang tersebut habis pada 2025 hingga 2030.
”Sadar atau tidak, periode bonus demografi sudah kita masuki sejak 2015. Jadi, sekitar 70% populasi kita berada pada usia produktif. Sekitar 53%-nya merupakan generasi milenial dan gen Z yang mayoritas telah menyelesaikan pendidikan,” ujar Yusuf dalam acara Youth Economic Summit 2025 yang digelar Core Indonesia di Jakarta, Sabtu (15/11/2025).
Baca Juga
Wamenkomdigi Tegaskan Penguasaan AI Jadi Kunci Hadapi Bonus Demografi 2035
Seharusnya, menurut Yusuf Manilet, kondisi tersebut menjadi modal yang sangat kuat untuk melibatkan anak muda dalam pembangunan. Namun kenyataannya, tingkat pengangguran muda di Indonesia masih relatif tinggi, bahkan lebih tinggi dari negara-negara tetangga.
“Ini yang sangat disayangkan, mengingat kita punya deadline untuk memanfaatkan bonus demografi. Targetnya 10 tahun lagi, sekitar 2025 atau mentok-mentok mungkin 2040. Jadi, masalah pengangguran muda perlu diselesaikan,” tegas dia.
Yusuf menilai Indonesia memiliki banyak sektor yang bisa menjadi pendorong untuk memanfaatkan bonus demografi. Ekonomi digital menjadi salah satu yang paling menjanjikan, mengingat tingkat penetrasi internet nasional sudah mencapai 80%.
Selain sektor digital, kata Yusuf Manilet, ekonomi hijau menawarkan potensi besar. Kontribusi sektor ini pada 2030 diproyeksikan mencapai Rp 500-600 triliun dengan potensi sekitar 1,7 juta lapangan kerja berkelanjutan.
Baca Juga
BPS Ungkap PHK Masih Terjadi Meski Pengangguran Berkurang 4.092 Orang
“Ketika beralih dari brown economy atau yang sifatnya tidak berkelanjutan menjadi green economy, kita awalnya berpikir akan muncul masalah pengangguran. Tapi kalau bicara data, peralihan tersebut sebenarnya juga membuka peluang,” kata dia.
Yusuf juga menyoroti hilirisasi yang tengah digenjot pemerintah. Hilirisasi tak hanya terjadi di sektor tambang seperti nikel, tapi juga produk perkebunan dan sektor lainnya.
“(Hilirisasi) seharusnya juga bisa dijadikan salah satu cara untuk mendorong keterlibatan anak muda dalam mengoptimalkan bonus demografi,” tutur dia.

